Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2008

matahariku

Iklan

Read Full Post »

hELVY tIANA rOSA

Betapa perihnya. Perempuan itu menggigit bibirnya yang tiba-tiba asin darah. Sejak pagi hingga malam menyergap, ia masih menangis. “Tak mungkin,” desisnya, tetapi itu nyata. Ia sendiri yang membaca semua sms mesra itu. Suaminya telah berpaling. Sandaran h id up, pria terbaik di dunia itu, ayah anaknya, berkhianat! Sejauh apakah? Ia gelisah. Ia tatap potret perkawinan di dinding kamar mereka. Tiba tiba tangannya sudah bergerak meraih potret itu namun urung membantingnya. Gumpalan-gumpalan benci semakin membesar. Lalu ia pun tersungkur begitu saja di sudut kamar. Lelaki. Apa mereka semua sama?

Perlahan ia raih lagi ponsel suaminya yang tertinggal hari itu. Nyeri sekali. Perempuan yang entah siapa, hanya berinisial S menyapa suaminya melalui sms dengan “cinta”, “say”, “kiss u”, dan semacamnya. Beberapa saat lalu ia hanya cengengesan membacanya. Mungkin teman yang iseng. Tapi ia terhenyak dan tiba-tiba merasa terbanting. Pada bagian sent, ia melihat balasan sms suaminya! Kata-kata “say” dan “kiss u” juga ada di sana ! Airmatanya semakin berderai-derai dan beliung-beliung dari berbagai penjuru menikam batinnya.

Belasan tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal suaminya. Tapi hari itu ia merasa suaminya tak lebih dari orang asing. Sangat asing.

Ia telepon suaminya sambil menangis. “Apakah abang baik-baik saja?” isaknya. Suara sang suami datar menjawab bahwa ia baik-baik saja dan menanyakan kabar istrinya. Perempuan itu tak sanggup. Ia putuskan telepon. Ia sms suaminya dengan satu kata: S.

Dengan bercanda suaminya membalas sms. S? Bukan siapa-siapa. Hanya teman virtual. Bisa jadi siapa saja. Mungkin nenek-nenek atau lelaki.

Tapi perempuan itu telah membaca gelagat. Ia menangkap aroma kebohongan itu.

Dengan sekuat hati mencoba menjaga emosi, ia pergi menuju wartel terdekat. Ia telpon perempuan misterius itu. Ia berpura-pura mengetahui nomor itu dari seseorang dan akan mengabarkan tentang seseorang lainnya yang sakit parah. Suara di ujung telepon menjawab sekadarnya: “Salah sambung!”

“Boleh saya tahu ini siapa?”

“Saya Lina.”

Dengan sebukit ingin tahu yang kian meninggi, perempuan itu menekan nomor hp “S” kembali. “Mohon maaf ya, tapi saya diberikan nomor ini. Apa betul ini Mbak N?”

“Nama saya Shinta! Saya di bandung bukan di Menteng. Saya lagi puasa! Salah sambung!” ketusnya.

Tapi tadi Lina, sekarang Shinta?

Perempuan itu kembali ke rumah dengan langkah yang semakin gontai dan airmata yang terus bercucuran. Ia sms kembali suaminya:

Siapa dia Bang? Mengapa?

Bkn siapa-siapa. Hny teman virtual. Aku malah tdk ingin btemu dngnnya. T id ak ingin tahu siapa dia. Aku hanya curhat.

Curhat? Mengapa bkn dengan aku saja, Bang? Maafkan aku, maafkan kekuranganku hingga Abang harus bpaling. Aku memang istri yang t id ak peka dan t id ak berguna. Aku merasa….

Sayang, aku yang minta maaf. Mungkin seumur h id up kamu akan terus terluka. Aku menyesal. Apapun kekuranganmu tak boleh membuatku berpaling darimu….

Hening. Airmata.

Entah bagaimana, tiba-tiba kata maaf dan penyesalan dari suaminya bertubi-tubi muncul di ponsel perempuan itu.

Tolong maafkan aku. Aku yang salah karena meladeninya. Aku mrs menemkn sosok ibu rmh tg yg baik pd drnya. Tlg maafkan aku. Jgn hkm dirimu krn keslhanku.

Aku yg slh, bdh, tdk peka. T id ak berguna sbg istri. Setelah ini mgkn aku tak sanggup lg mhadapi matahari.

Perempuan tersebut bersiap siap. Mungkin ia harus pergi. Entah untuk sebentar atau selamanya. Entah kemana. Mungkin ke tempat di mana matahari dan bulan tak ada. Ia menangis lagi saat menatap wajah anaknya.

“ Ada apa, Bu? Mengapa hari ini ibu menangis terus?” Tanya sang anak.

Ia tak sanggup menjawab, hanya memeluk. Lalu pelan ia berbisik, “ibu mendapat cerita sedih teman Ibu dari sms. Tolong doakan ya semoga semua baik-baik saja.”

“Tapi mengapa mata ibu sembab?”

Ia paksa membuat lengkung pelangi terbalik di wajahnya. Anaknya tersenyum dan bermain kembali.

Tolong maafkan aku. Hukum aku. Bencilah aku. Ini akan menjadi hukuman seumur h id upku, sms suaminya lagi.

Perempuan itu menatap cermin buram di kamarnya. Apa yang sudah aku lakukan? Apakah aku luput memperhatikan dia? Apa aku terlalu banyak di luar?
“Kamu sangat dibutuhkan masyarakat,” terngiang kata begitu banyak orang, juga suaminya. Benarkah? Tapi ia juga dibutuhkan suami dan anak-anaknya….

Sungguh, perempuan itu telah menetapkan rambu-rambu itu untuknya. Ia baru akan pergi setelah suami dan anak-anaknya keluar rumah dan tiba di rumah sebelum mereka pulang. Ia coba menyempatkan diri memasakkan suaminya, membuatkannya segelas susu setiap pagi. Apakah suaminya ingin ia juga mencuci dan menyetrika baju lelaki tercintanya itu dengan tangannya sendiri? Ia mau sekali. Namun cukupkah waktu untuk itu semua? Bukankah dulu suaminya juga yang berkata bahwa hal seperti itu bisa dilakukan siapa pun, namun apa yang perempuan itu kerjakan, sedikit saja perempuan yang mampu melakukannya.

Bantal yang menyangga kepala perempuan itu telah basah oleh airmata.

Izinkan aku menjelaskan semua. Tlg maafkan aku. Mohon bukakan pintu rmh untukku mlm ini…, jangan pergi….

Perempuan tersebut tak lagi membalas sms suaminya. Haruskah ia pergi malam ini? Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana pernikahan mereka? Haruskah berpisah? Ah, ia berharap kini ia tengah tert id ur, lalu kecupan mesra sang suami membangunkannya dari semua mimpi buruk.

Perlahan diseretnya kakinya yang seakan-akan melemah, ke kamar mandi. Ia siramkan air ke wajahnya. Lalu ia berwudhu. Ia harus segera menghadapNya untuk mendapatkan ketenangan. Bernaung dalam cintaNya di saat ia tak lagi merasa memiliki cinta sejati di dunia ini selain kasih ibu.

Ia tak tahu sudah berapa lama ia tersungkur di atas sajadah, ketika sayup-sayup terdengar langkah suaminya. Hari sudah larut. Penghuni rumah yang lain telah lelap. Ia hapus airmata di pipi dan bangkit. Ia akan membuka pintu rumah dan menghadapi sendiri seperti apa mimik suaminya saat mereka bertatapan pertama kali setelah peristiwa itu.

Tak ada kata kecuali salam yang diucapkan dan dijawab. Perempuan itu mencium tangan suaminya dengan kaku. Dan lelaki itu mengecup pipi, kening serta bibir sang istri, seperti sebuah ritual yang ia lakukan dengan kesadaran penuh

Baru beberapa langkah, lelaki itu memegang tangan istrinya dan berkata: “Bolehkah aku memelukmu?”

Perempuan itu hanya diam. Suaminya memeluknya dengan kuat diiringi bertubi maaf. Perempuan itu berderai-derai. Apakah ini suamiku? Atau entah orang asing mana? Ia merasa dirinyalah yang terasing di antara suaminya dan perempuan berinisial S itu.

Perempuan itu terlalu luka untuk mengumbar amarah. Ia hanya terdiam. Menjaga malam dengan matanya yang berembun. Namun suaminya tak juga beranjak dari sisinya.

Lampu telah mati sejak tadi. Mereka berbaring bersama bersisian. Setelah beberapa saat udara hampa kata, dengan suara bergetar lagi-lagi suaminya meminta maaf. “Aku yang salah. Aku egois. Aku tergoda. Meski kami belum pernah bertemu dan hanya berkirim email serta sms, aku telah mengkhianatimu.” Lelaki itu tak lepas mencium tangan istrinya.

Senyap. Perempuan itu menelan lukanya. “Siapa dia, Bang? Apa dia sudah menikah?”

Suaminya menyebut nama perempuan itu. Janda cerai h id up dengan dua anak. Ibu rumah tangga biasa. “Tapi kami belum pernah bertemu.”

Janda? Cerai h id up? Dua anak? Perempuan itu terhenyak. “Belum bertemu tapi mengapa begitu akrab? Ia bahkan tahu nama anak-anak dan saudara kita?”

“Karena aku sering bercerita padanya.”

“Dan dia? T id akkah dia juga sering bercerita?”

“Ya. Semua terjadi begitu saja. Mengalir begitu saja. Tiba-tiba di dunia itu kami menjadi sangat akrab…,maafkan aku….”

Sembilu memahatkan lagi luka yang nanah di batin istrinya. “Aku yang salah,” suara istrinya bergetar. “Mungkin terlalu banyak celah dalam diriku yang membuat perempuan itu bisa masuk dalam batinmu. Akulah pintunya. Mungkin karena aku terlalu sibuk. Mungkin karena aku tak pintar mengurus rumah tangga….”

“T id ak,” lelaki itu mengecup kening istrinya. “Itu salahku. Hatiku tak bersih. Seharusnya aku tak egois. Kamu istriku, adalah harapan banyak orang. Aku yang egois….”

“Kita sudah sepakat menjaga komunikasi. Aku tak mengerti. Aku memang bodoh dan t id ak peka,” kata perempuan itu lagi.

Suaminya terus menggenggam jemari istrinya, mengecup dan menaruh di dadanya.

Perempuan itu masih menangis. “Lalu apa, Bang? Apa yang harus kulakukan?”

Suaminya menarik napas panjang sambil membelainya. “T id ak ada. Aku yang harus bertobat. Aku malu pada Tuhan, padamu, pada dunia….”

Hening. Lalu ia dengar suaminya terisak dengan dada berguncang, mendekapnya erat. “Tolong beri aku kesempatan. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku tak akan pernah lagi berpaling darimu. Tak akan pernah meninggalkanmu….”

Perempuan itu menatap langit kamar yang kelabu. Belasan tahun bersama, berapa banyak kebohongan di antara mereka? Ia merasa mengenal suaminya sangat baik. Kalau ada lelaki di zaman ini yang tak pernah berbohong, maka ia begitu yakin itu adalah suaminya. Dan kini, apa yang tersisa dari keyakinan itu?

Ia gigit lagi bibir bawahnya dan masih menemukan asin darah yang sama. Ah, ia merintih menahan perih itu. Hampir setiap saat ia menampung keluh kesah para sahabat dan banyak teman tentang suami-suami mereka yang berselingkuh. Dan apa yang ia katakan? Kalau suamimu selingkuh, introspeksi dirimu. Baca kembali dirimu, mungkin ada yang keliru dengan buku h id upmu. Namun bila selingkuh itu telah sampai pada kontak fisik, engkau tak salah bila memutuskan pergi dari h id upnya. Dan bila itu terjadi padaku—kata perempuan itu—aku akan benar-benar pergi! Ah, tapi kan suamiku bukan seperti suami perempuan lain…, yakinnya dulu. Ya dulu sampai dengan hari itu.

Malam semakin larut dan dingin. Perempuan itu menggigil menyadari apa yang terjadi. Berapa lama? Tiga bulan, kata suaminya. Perempuan itu mengirim email lebih dulu. Suaminya menjawab. Semakin lama email-email itu kian panjang. Berseliweran setiap hari dan meningkat pada sms. Setelah itu? Perempuan tersebut berg id ik. “Kami belum pernah bertemu…,” terngiang lagi kata suaminya. “Aku hanya pernah melihat fotonya….”

Tapi sapa mesra itu?

“Maafkan aku…,”lirih suaminya. “Maafkan aku…,” katanya tak putus sambil mendekap istrinya yang kaku.

Bulan mulai lelah. Sebentar lagi mentari akan menggantikan tugasnya menerangi bumi. Namun apakah kata maaf dari suaminya dapat menerangi lagi batin perempuan itu?

Kaku sekali ia beringsut mendekati dengan suaminya. Ia rasakan letupan duka itu saat ia mendekap suaminya. “Maafkan aku juga….”

“Cinta, kamu tak salah, aku yang salah,” itu lagi kata suaminya. Lelaki itu terisak di dadanya.

Dengan mata yang terus terjaga perempuan itu berusaha menghentikan airmatanya. Ia bersyukur hari itu ia tak emosi, apalagi memaki-maki perempuan itu. Ia hanya introspeksi, meminta maaf pada suaminya dan mengadu pada Allah….

“Apakah aku masih diberi kesempatan untuk mendampingi dan menjagamu selamanya?” tanya suaminya.

Mereka bertatapan.

Dalam genangan lara perempuan itu mengangguk. Tapi ia sungguh tak tahu sampai kapan luka itu sembuh. Dan S? Ah, perempuan seperti apa yang tega menggoda dan mencoba merenggut kebahagiaannya?

Duka dan maaf berarak dalam kamar yang gelap. Sepasang cinta dengan sayap luka berdekapan hingga pagi menyapa. Berharap sabar dan sesal dapat melelehkan luka yang batu.

(untuk seorang sahabat, dengan empati yang dalam)

Ada apa, Ra? Mengapa kulihat kembali gurat pedih itu di wajahmu? Lalu seperti aliran sungai yang menderas, matamu pun bercerita pada mataku…

Ah, aku juga jadi tak mengerti. Mengapa suamimu masih menyimpan nomor telpon perempuan itu? Saat secara tak sengaja kau temukan sms-sms mesra itu di ponsel suamimu, naluri sebagai istri membuatmu hafal nomor ponsel perempuan itu.

Beberapa waktu lalu, suamimu memang telah meminta maaf, bahkan menangis mencium tanganmu berkali-kali. Suamimu juga berkata, ia telah menghapus semua tentang perempuan tersebut, termasuk nomor ponselnya. Ia juga berjanji tak akan lagi membalas email-email perempuan itu, yang membuat mereka semakin akrab berbulan-bulan. Tapi apa buktinya? Mana?

Kau merasa sangat perlu menjaga privasi suamimu. Karena itulah kau tak pernah ingin mengusik ponselnya, mencari tahu tentang apapun, termasuk hubungan antara suamimu dan perempuan itu yang kau kira telah tamat. Kau tahu suamimu sudah sangat menyesal. Hingga suatu saat, entah mengapa perasaanmu begitu tak enak.

Malam itu kau coba melihat kembali ponsel suamimu. Sebuah sms dari nomor tanpa nama tak mungkin bisa kau abaikan. Gaya bahasa perempuan itu! Meski tanpa kata cinta dan sapa mesra, kau tahu: perempuan itu menghubungi suamimu lagi, dengan nomor baru! Lalu kau catat kembali nomor tersebut. Tak perlu kertas. Luka telah menjadi pena yang lancar menggores kembali hatimu.

Kau diam. Hanya diam. Kau layani suamimu sepenuh hati, dengan keriangan yang terpaksa kau cuatkan dari nestapamu. Namun beberapa hari kemudian, saat suamimu lengah, kau cari nama yang mencurigakan dalam ponselnya. Mana? Di mana nama perempuan itu? Apakah suamimu sudi menyimpan nomor itu kembali? Kau terhenyak. Tak ada! Kau telusuri satu persatu nama dan kau cocokkan dengan nomor ponsel perempuan itu yang kau hafal sampai ke jantungmu. Kau terkejut! Sejak kapan suamimu mulai fasih (kembali) berbohong? Tiba-tiba kau merasa tak pernah mengenal suamimu sebelumnya. Sebuah nama lelaki yang mencurigakan dengan nomor ponsel yang terus menghantuimu, tertera jelas di sana !

“Supaya suamiku t id ak tahu, aku selalu pakai nama perempuan untuk selingkuhanku lho,” terngiang perkataan centil teman perempuan sekantormu. “Jadi dia t id ak mengira sama sekali bahwa Susi itu adalah Mas X,” tutur temanmu lagi. “Kadang namanya aku ubah sesukaku: Maryam, Imel, jenifer, Aisyah,” katanya cekikikan.

Kau beristighfar. Apakah itu juga yang dilakukan lelaki tercintamu?

Kau tak pernah membayangkan, suamimu tega menggali kembali luka yang ingin kau, yang ingin kalian lupakan atas nama cinta…dan kau masih bertanya-tanya sendiri, “Benarkah? sengajakah sang tercinta? Tak sengajakah? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Terbersit di pikiranmu untuk bertanya pada suamimu: mengapa? Tapi ada batu menindih l id ahmu. Bukankah suamimu “hanya” menyimpan nomor telpon perempuan itu? Itu tak lantas berarti mereka menjalin hubungan istimewa lagi bukan? Namun mengapa harus nama pria yang tertera di ponselnya? Mengapa sang tercinta tak jujur saja menyimpan nama dan ponsel perempuan itu sebagai teman, dan ia katakan padamu?

Kini semua nomor perempuan itu ada dalam genggamanmu. Dan kau belum memutuskan apa pun. Hanya luka menjelma pena tajam tak berhenti menulis kembali semua angka dalam batinmu, diiringi airmata….

Andai aku bisa sekadar membantumu, Ra….


“Kenapa, Ra?”

Suara di ponsel saya terdengar semakin terisak.

“Ternyata suamiku masih berhubungan dengan perempuan itu, Vy….”

“Astaghfirullah…,sejauh apa, Ra? Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Aku membaca sms2 yang belum sempat dihapusnya…,” suara Ra tercekat di kerongkongan. “Dia masih memanggil suamiku dengan sapa cinta….”

Aku menarik napas panjang. “Bagaimana balasan suamimu?”

“Aku lihat di bagian sent. Suamiku menjawab biasa saja…tapi memberikan atensi yang besar…,” tangis Ra makin keras. “Aku takut kehilangan suamiku, Vy….”

Aku ikut tersayat. Apa yang ada di otak dan hati perempuan itu? Ra orang baik, suami Ra orang baik, mereka keluarga yang bahagia dan kini….

“Perempuan itu bilang dia sakit…,dia juga bertanya soal no hp yang dia curigai sudah aku ketahui…,” tutur Ra lagi…

“Lalu bagaimana dengan respon suamimu?”

“suamiku udah nggak ngomong pakai cinta-cinta-an, tapi dia bilang nomor lama itu dihangusin saja…, dia meminta perempuan itu ganti nomor. Dia bilang dia akan belikan ponsel-nya! Membelikan ponsel, Vy!” Suara Ra tergugu. “Aku pusing, Vy…untuk pertama kalinya dalam h id upku, tiba-tiba aku ingin mati….”

“Ra…,sabar ya, Ra…sabar. Kamu lebih mendekatkan diri lagi saja pada Allah. Dia Yang Maha Menggenggam Hati. Minta sungguh-sungguh agar suamimu sadar…dan….”

“Apa, Vy?”

“Bicara dengan suamimu dan perempuan itu baik-baik….”

“Haruskah? T id akkah ia bisa membacaku?”

“Bukankah selama ini ia telah keliru membacamu? Suamimu bahkan tak menyadari kamu tahu sejauh ini. Bicara, Ra. Tanya mereka mau apa? Lalu kalau mereka tetap ingin meneruskan hubungan mereka, apa yang akan kamu lakukan, Ra?”

Suara di seberang telpon terdiam lama….

“Ra…?”

“Kalau memang dia lebih membutuhkan perempuan itu, aku akan mundur. Aku akan minta berpisah, Vy. Rasanya aku tak kuat menanggung semua ini. Mana anakku sedang sakit….”

Airmataku menetes….

“Ra?”

“Aku…,pedih sekali…Vy…lukanya sangat menganga….,” Suara Ra nyaris tak terdengar ….

Ah, Ra, kamu entah perempuan ke berapa yang akhirnya harus mengalami ini…. Dan perempuan itu? Hati macam apa yang ia miliki? T id akkah ia bisa mencari pria lain, tak lagi menggangu suami orang…dan menjaga jarak selamanya? Dan suami Ra…, t id akkah terbuka hatinya untuk mengoreksi diri? Kalau ada hal yang dia inginkan dari Ra dan belum ia temukan dalam diri istrinya itu, t id akkah ia bisa menyampaikannya? Ra siap berubah sesuai apa yang diinginkan suaminya, begitu tekad Ra. Bukankah mereka bisa bicara? Apa yang menghalangi itu?

“Ra….” hanya isakan yang tak berhenti.

Telpon terputus.


RA:

Akhirnya aku putuskan untuk bertanya padamu, Bang. Setelah batinku lelah terus menanggung pilu yang semakin menggunung dan menyesakkan dada.

Kau sangat terkejut dan tak menyangka aku tahu sebanyak itu bukan?

Pertama kali aku mengetahui tentang kalian memang belum lama, baru empat bulan lalu, ketika terbaca sms-sms mesra kalian dalam ponselmu yang tertinggal di rumah hari itu. Secara naluri, aku langsung menelpon perempuan itu, berpura-pura menanyakan sesuatu. Suara yang sangat ketus menyatakan salah sambung!

Malam ketika kau pulang, aku bertanya baik-baik padamu, Bang. Mulanya kau menyangkal. Namun setelah kutunjukkan bukti-bukti, kau menangis. Kau bilang kalian baru dekat 3 bulan saja dan hanya lewat email dan telpon. Dia curhat padamu, kau meladeni dan akhirnya kalian semakin akrab. Aku tahu kau tak pernah berdusta. Jadi ketika kau nyatakan kau bertobat dan meminta aku memaafkanmu sambil menangis, meski perih aku menerimamu kembali. Apalagi kau bilang, janda beranak dua itu, pernah mengajak bertemu tapi kau menolak. Dan menurutmu kalian belum pernah bertemu. Kau hapus segala tentangnya, juga nomornya di ponselmu.

Hari pun berlalu dan rumah tangga kita semakin baik. Ah, sebenarnya sejak dulu kita juga baik-baik saja kan ? Aku berusaha untuk lebih berubah lagi, mengikuti keinginan dan imajimu tentang seorang ibu rumah tangga. Sampai bulan ini entah mengapa aku mencium gelagat yang lain darimu.

Teman dekatku pernah berkata, ada beberapa tanda seorang suami berpaling:

Lebih suka jalan sendiri daripada bersamamu
Lebih mudah marah
Lebih memilih main game sampai larut malam daripada bicara denganmu
T id ak suka bicara soal keh id upan rumah tangga sendiri
Membawa HP ke sudut manapun meski hanya dalam rumah
Lebih memperhatikan penampilan , tapi tak membutuhkan saranmu
dll
Waktu itu aku cuma tertawa mendengarnya. Namun kemudian kuperhatikan, semua ada padamu. Kau tahu, Bang, aku sudah tak pernah lagi mau memeriksa ponselmu, sejak peristiwa pertama itu berlalu. Bukankah sejak dulu aku memang seperti itu? Aku ingin menghargai privasimu. Aku percaya padamu.

Lalu entah mengapa, sebulan lalu, perasaanku tak enak. Senja merah dan saat kau lengah, kubaca isi ponselmu. Memang tak ada sms mesra dari perempuan itu seperti dulu. Tapi seseorang bernama “Doni” mengirim sms padamu dengan gaya bahasa yang sama dengannya. Aku terhenyak dan seperti disadarkan. Mengapa, Bang? Mengapa kau jalin lagi hubungan dengannya, padahal kau sudah berjanji untuk setia padaku dan Allah setelah peristiwa pertama? Dan ia yang kau namai “Doni” adalah perempuan itu! Mengapa? Mengapa harus berdusta padaku dengan menyamarkan namanya menjadi nama lelaki?

Aku mulai mengerahkan semua panca indera, juga mata ketigaku untuk melihat hubunganmu dengannya.

Tanpa setahumu, aku menyel id iki perempuan itu. Aku tahu nama, alamat, juga nomor-nomor ponselnya. Aku tahu siapa dia, mengapa ia bercerai dari suaminya, dan lain-lain.

Ketika ada beberapa kali kesempatanmu menginap di kota B, kau pergi dengan sangat riang. Entah mengapa suatu hari, aku terusik dan…mengikutimu!

Aku tahu di sana kau memang benar-benar bekerja, Bang. Tapi aku merasa kau pasti pernah bertemu dengannya, set id aknya saat itu, kala aku menemukan kalian dengan mata kepalaku sendiri. Kalian makan minum bersama di tempat yang kau bahkan belum pernah mengajakku ke sana . Aku melihat caramu dan cara dia menatap satu sama lain. Dan kau tak menyadari bukan? Dengan tubuh menggigil karena kehujanan, aku berdiri di dekat jendela, lalu bergeser ke pintu dan memandang kalian dengan penuh luka…Kau, dia tertawa-tawa dengan mesranya, tanpa beban…Dadaku berdegup keras. Ingin rasanya aku melabrak kalian! Atau kalau t id ak, sekadar mendatangi dan memandang kalian dengan mata lara.

Namun sebuah sms dari anakmu menyadarkanku untuk pulang malam itu juga dari Kota B kembali ke Jakarta . Sepanjang jalan, dalam kendaraan umum, aku menangis. Ah, apa yang bisa kulakukan lagi saat itu selain menangis?

Ketika kau pulang, aku belum ingin berkata apa pun. Belum. Aku tetap mencoba melayanimu dengan riang. Aku berharap dengan ketulusanku, kau tergugah dan lebih mencintaiku, lebih mencintai keluarga kita yang telah terbangun belasan tahun ini.

Kemarin, entah mengapa aku gulana. Firasatku mengatakan ada yang tak beres. Saat kau ke kamar mandi, kulihat ponselmu. Benar, dia menghubungimu lagi! Dia bercerita bahwa dia sedang sakit dan mau ke rumah sakit bersama ibunya. Dalam sms lain ia bilang ia ingin ganti nomor ponsel karena merasa tak nyaman memikirkan mungkin aku tahu nomornya. Yang membuatku lebih tersentak adalah ketika di bagian sent yang belum sempat kau hapus, kau katakan padanya untuk menghanguskan nomor lama dan menggantinya dengan nomor CDMA seraya mengatakan kau yang akan membelikan ponselnya!

Pagi itu saat kau pamit ke kantor dan mengecupku, tubuhku bergetar menahan tangis yang nyaris meledak. Tapi kau tak membacanya…,kau memang tak pernah bisa membacaku dengan benar, Bang…

Lalu kemana aku harus berbagi cerita dan meminta saran? Kebanyakan temanku lelaki. Tapi apakah aku akan mengulang jalanmu dengan curhat pada mereka, lalu jadi makin dekat dan akhirnya berpeluang besar menghancurkan rumah tangga mereka? T id ak. Aku tak pernah mau ambil resiko. Aku hanya ingat seorang teman yang menyarankanku untuk menuliskan semua beban h id up agar terasa ringan. Aku bercerita padanya.

Dia mengatakan agar aku berani bicara padamu lagi. “Komunikasi adalah kunci utama keutuhan sebuah rumah tangga,” katanya.

Sebelum bicara padamu, mungkin juga pada perempuan itu, aku mendapat kekuatan dari sebuah tempat yang tak pernah kuduga: multiply! Di webnya, sahabatku mengangkat persoalanku dengan jati diri yang disamarkan. Kau tahu, Bang? Begitu banyak simpati, empati yang menghiburku. Mereka juga memberikan saran-saran yang sangat baik dan bisa langsung kuterapkan! Ah, aku berhutang budi pada mereka semua….

Awalnya aku mengirim sms…sebuah doa untukmu. Kau menjawabnya dengan riang, dan mengucapkan terimakasih. Lalu kukirim sms pada sahabat perempuanku, bahwa aku mengetahui hubungan kalian lebih jauh. Tapi Allah berkehendak lain. Jari-jariku lincah mengetik sms yang kemudian malah terkirim padamu itu!

Baru setengah jam setelah itu kau membalas. Kau bilang kau tetap cinta padaku. Kau akan bertobat dan kau meminta maaf untuk kedua kalinya (tak akan ada kata maaf yang ketiga. Aku berjanji padamu dan Allah, tulis sms mu). Aku masih terguncang, namun kutahan tangis saat menatap wajah anak kita. Saat itu aku sedang di rumah sakit, memeriksakan kesehatanku dan anak kita. Untuk pertama kalinya, kukirim sms pada dua nomor hp milik perempuan itu. Bukan amarah yang kukirim, hanya sebuah pertanyaan: Mengapa Anda memanfaatkan situasi dan terus menghubungi, mengganggu suami saya (jangan bilang anda tak memanggilnya cinta). Apa salah saya pada Anda? Tak ada jawaban. Tak pernah ada.

Malamnya kau pulang dan kita bicara baik-baik, meski aku sempat menangis sesenggukan. Aku minta kau bicara sejujurnya. Kau lebih banyak diam dan mendengarkanku dengan wajah menyesal.

“Jadi apa target hubungan kalian?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Tak ada,” paparmu. “TTM…”

Aku mual mendengarnya. TTM (Teman Tapi Mesra). Itu akan jadi lagu yang paling kubenci di dunia ini!

“Dulu abang bilang tak pernah bertemu dengannya. Mengapa abang berdusta?”

Kau menciumku dan berulangkali minta maaf. “Hanya mengobrol, curhat-curhatan saja. Tolong maafkan aku….”

Hatiku semakin ngilu.

“Bisakah aku memaafkanmu, Bang? Mungkin bisa…tapi t id ak sekarang….”

Aku lalu memintamu untuk istikharah memilih aku atau dia…

Kau mendesah. “Aku tak ingin kita berpisah. Aku memilihmu. Aku masih mencintaimu,” bisikmu. “Aku tak akan berhubungan lagi dengannya, dalam bentuk apa pun.”

Aku masih menangis.

Esoknya keadaan agak membaik. Kau lebih memperhatikanku dan masih terlihat menyesal. Kau bahkan mengatakan tak ingin membawa HP dan memberiku password dua email-mu. Ketika kutanya nama lengkap dan alamat email perempuan itu, kau memberikannya….

Ketika berangkat kerja aku sudah berpikir , kau menyesal dan tak ingin mengulangi. Kau telah berkata sejujur-jujurnya. Maka apa yang menghalangiku untuk tak memaafkanmu? Pagi itu dari atas bis kota aku mengirim sms maafku padamu dan kau menyambut dengan sukacita. Kita mulai lagi dari awal ya…kita berjuang bersama, sayang! Kiss u! sms-mu.

Berakhir, pikirku. Berakhir…saatnya memaafkan….

Sore itu, iseng saja, kubuka emailmu—hal yang tak pernah kulakukan selama belasan tahun kita menikah. Kucek semua email darinya. Tak ada. Ah, tentu saja sudah kau hapus bukan? Namun aku tak menyerah…kuteliti lagi…! Dan aku terpana, melihat tiga imel dengan id yang berbeda, tapi tetap darinya. Mungkin kau lupa menghapusnya….

Ah, ternyata banyak yang tak kutahu tentang kalian. Sampai kemarin kau masih mengatakan hubungan kalian baru bulan puasa 2005 kemarin. Namun aku menemukan email dari perempuan itu pada tahun 2004, bahkan 2003! Rasanya aku ingin pingsan! Mengapa? Mengapa Abang tak jujur padaku? Kalian sudah menjalin hubungan selama 3-4 tahun! Ya Allah, sudah sejauh mana? Dalam email itu baru kusadari kalian tak pernah berkenalan melalui internet, email. Pada email bertahun lalu itu perempuan itu curhat padamu mengenai perceraian dengan suaminya. Suaminya terlibat hutang ratusan juta, dan perempuan itu dalam kesulitan ekonomi. Aku juga tahu kau sangat peduli padanya dan meminjamkannya sejumlah uang….sejak lama….

Kuraih ponselku. Minggu ini juga, aku ingin bertemu denganmu dan perempuan itu, untuk membicarakan persoalan kita dan hubungan kalian yang telah empat tahunan itu. Mungkin aku memang harus pergi. Mengapa kau harus berdusta, Bang?

Tiba-tiba kepalaku pusing, Bang…aku terjatuh dan tak ingat apa-apa lagi. Lamat-lamat hanya kudengar suara anak-anak berteriak. “Panggil taxi, ibu pingsan! Ayo. Cepaaaat! Kita ke rumah sakit!”

Ketika sadar, kulihat aku ada dalam dekapanmu. Kau membelai dan menciumku bertubi-tubi disertai kata-kata yang itu juga: “maaf”. Kulihat matamu basah….

Tapi aku terlalu lemas untuk menyapa. Hancur. Aku hanya mampu bertanya lemah, “Mengapa, Bang? Mengapa?”

Malam itu baru kau ceritakan semuanya secara utuh. “Aku takut kamu marah dan tak mau menerimaku lagi kalau aku ceritakan semua…,”katamu terisak. “Aku takut….maafkan aku….”

Aku hanya menatapmu dengan mata bengkak, nyaris tanpa kedipan…., “Mengapa?”

Pertemuan pertama kalian terjadi saat kau kelas V SD di sebuah kota . Ia satu angkatan dengan adikmu. Tapi kalian tak pernah mengenal satu sama lain. Sampai empat tahun lalu, saat terjadi reuni, kalian bertemu kembali. Lalu semakin akrab. Saat itu ia curhat padamu tentang suaminya yang terlibat hutang ratusan juta. Ia memintamu mencarikan pekerjaan untuk suaminya. Maka kau yang baik hati pun benar-benar membantu, bahkan bolak balik ke kota B hanya untuk itu. Tapi suami perempuan tersebut benar-benar bermasalah, mereka bercerai dan kalian semakin dekat. Kau bahkan beberapa kali menginap di rumah perempuan itu!

“Tak terjadi apapun,” katamu bersumpah atas nama Allah. “Sentuhan fisik hanya terjadi saat kami bersalaman….”

“Apakah aku harus percaya itu?” aku sesenggukan….

“Aku sudah menceritakan semua, tak ada lagi yang kututupi,” katamu sambil membelaiku.

Aku hampa. Hambar….”Kalau kau mau pergi dari h id upku, inilah saatnya, Bang…aku rela…,” kataku pedih. “Aku juga tak mau menerimamu lagi kalau kau pernah melakukan itu dengannya….”

Kau terus mendekapku. “T id ak. Kami tak pernah melakukan itu. Ya Allah, aku tak ingin kehilanganmu,” ujarmu berulangkali….

“Aku tak bisa terus menerus memaafkanmu…,” lirihku sambil mengusap mataku yang memerah dan semakin membengkak..

“Ini yang terakhir, yang terakhir…,”katamu sambil mendekapku lebih erat. “Aku tak akan pernah meninggalkanmu selamanya! Tak akan….”

Empat tahun. Aku ingat empat tahun terakhir inilah aku kehilanganmu, suamiku. Kau yang dikenal sangat alim, kerap sholat subuh kesiangan. Kau juga mudah tersinggung, mudah marah, malas ngobrol dan seolah tak memperhatikanku. Kau memang lebih memperhatikan penampilan, tapi tak pernah meminta saranku. Kau lebih suka main game sampai lewat tengah malam, daripada berbicara denganku. Hubungan kita benar-benar hambar dan formal. Kau selalu sibuk dengan kerja, kerja dan kerja. Empat tahun ini tak pernah kurasakan kehangatan, juga dalam hubungan suami istri yang sekadarnya itu…. Empat tahun ini kau seperti bukan dirimu!

Suara kentongan berbunyi dua kali. Kau masih mendekapku erat. Saat itulah kau berkata, kau seperti disentakkan. Kau merasa hubunganmu dengan Allah buruk sekali empat tahun terakhir. Kau juga sudah jarang mengaji. “Karena itulah aku lebih mudah tergoda dan berbuat hina seperti ini. Memalukan sekali. Maafkan aku…,aku akan memperbaiki hubunganku dengan Allah, dengamu…maafkan aku sayang…,aku sadar. Aku akan menebus empat tahun yang hilang itu…ya Allah saksikanlah janjiku….”

Kita menangis bersama. Aku tahu sekali, Bang…pada dasarnya kau lelaki yang sangat baik. Kau tahu? Itulah sebabnya bertambah tahun, bertambah cintaku padamu….

Dan kau benar, hubungan yang rapuh denganNya membuat kita mudah tergelincir. Aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk memperbaiki diri, memperbaiki hubunganku dengan Allah, memperbaiki peranku sebagai istri, ibu sejati…dan semoga kita tak akan pernah saling menyakiti dan kehilangan lagi satu sama lain….

Malam itu kita bercinta dengan sepenuh hati. Ya, sepenuh hati, untuk pertama kali setelah empat tahun. Masih ada luka…, namun sungguh tak tergambarkan keindahannya bagiku….

“Aku mencintaimu dan tak akan pernah mau berpisah denganmu…,”bisikmu, “Maafkan aku, Cinta….”

Terimakasih untuk Helvy dan teman-teman multiply yang banyak memberi perhatian, saran sepenuh cinta dan doa. memang masih tersisa perih, tetapi kisah duka kami telah berakhir bahagia. Aku memutuskan memaafkan Abang dan melupakan semua nestapa, untuk terakhir kalinya….

Semoga kalian juga bahagia…amiin…

Salam, RA

Read Full Post »