Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerita pendek’ Category

Hari ini sabtu jam 3.30 pagi ku terbangun mendengar alarm jam, karena  sengaja aku set jam segitu. Lalu ku bangun dari tempat tidur untuk mempersiapkan semuanya untuk perjalanan ke bandung. Bergegas ku ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi langsung ku cari baju dan celana untuk ku pakai. Waktu menunjukan jam 4 pagi mata segar dan cuaca yang dingin membuatku terbangun. Selesai ku merapikan semua barang-barang yang akan kubawa..kumandang azan shubuh pun terdengar langsun ku wudhu lalu shalat.waktu sudah menunjukan sudah setengah lima lewat, ku amabil tas ku ambil dompet, hape, dan sejumlah uang yang akan ku bawa untuk persiapan ke bandung. Ku ambil motor dan kunyalakan untuk memanaskan motor. Entah alasan apa dan bagaimana perasaan aku saat aku berada di Bandung. Mungkin kedua kalinya aku ke Bandung dengan menggunakan Sepeda motor mungkin kata nekat itu yang ada dipikiranku saat aku bandung, tapi aku punya tujuan yang harus ku lakukan dan harus ke sana. Entah apa jadinya bila telah sampai ke Bandung…Mesin sudah panaskan dan ku pamit pada orang tua ku, walaupun orangtuaku belum tahu tujuan aku sebenarnya.. langsung ku tancap gas setelah membaca Bismillah, mudah-mudahan aku sampai ke bandung dengan selamat. Dingin mencekap dengan udara pagi ini. Dalam pikiran saat berada di motor apa aku sampai bandung dengan selamat,…(continued)

Read Full Post »

 
Ketika Cinta Terurai Menjadi Perbuatan    
 

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua.
Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, “Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri.” Tapi lelaki itu malah menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu.
Aku takkan menikah lagi.”

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, “Aku memutuskan untuk encintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.”

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…

Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya.
Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan
dan tidak nyata…

Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon;
akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan.
Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh perbuatan.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa
integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati disini
adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang
dilahirkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti.

Cinta yang tidak terurai jadi perbuatan adalah jawaban atas angka-angka
perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.**

 

Sumber : www.dudung.net

Read Full Post »

hELVY tIANA rOSA

Betapa perihnya. Perempuan itu menggigit bibirnya yang tiba-tiba asin darah. Sejak pagi hingga malam menyergap, ia masih menangis. “Tak mungkin,” desisnya, tetapi itu nyata. Ia sendiri yang membaca semua sms mesra itu. Suaminya telah berpaling. Sandaran h id up, pria terbaik di dunia itu, ayah anaknya, berkhianat! Sejauh apakah? Ia gelisah. Ia tatap potret perkawinan di dinding kamar mereka. Tiba tiba tangannya sudah bergerak meraih potret itu namun urung membantingnya. Gumpalan-gumpalan benci semakin membesar. Lalu ia pun tersungkur begitu saja di sudut kamar. Lelaki. Apa mereka semua sama?

Perlahan ia raih lagi ponsel suaminya yang tertinggal hari itu. Nyeri sekali. Perempuan yang entah siapa, hanya berinisial S menyapa suaminya melalui sms dengan “cinta”, “say”, “kiss u”, dan semacamnya. Beberapa saat lalu ia hanya cengengesan membacanya. Mungkin teman yang iseng. Tapi ia terhenyak dan tiba-tiba merasa terbanting. Pada bagian sent, ia melihat balasan sms suaminya! Kata-kata “say” dan “kiss u” juga ada di sana ! Airmatanya semakin berderai-derai dan beliung-beliung dari berbagai penjuru menikam batinnya.

Belasan tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal suaminya. Tapi hari itu ia merasa suaminya tak lebih dari orang asing. Sangat asing.

Ia telepon suaminya sambil menangis. “Apakah abang baik-baik saja?” isaknya. Suara sang suami datar menjawab bahwa ia baik-baik saja dan menanyakan kabar istrinya. Perempuan itu tak sanggup. Ia putuskan telepon. Ia sms suaminya dengan satu kata: S.

Dengan bercanda suaminya membalas sms. S? Bukan siapa-siapa. Hanya teman virtual. Bisa jadi siapa saja. Mungkin nenek-nenek atau lelaki.

Tapi perempuan itu telah membaca gelagat. Ia menangkap aroma kebohongan itu.

Dengan sekuat hati mencoba menjaga emosi, ia pergi menuju wartel terdekat. Ia telpon perempuan misterius itu. Ia berpura-pura mengetahui nomor itu dari seseorang dan akan mengabarkan tentang seseorang lainnya yang sakit parah. Suara di ujung telepon menjawab sekadarnya: “Salah sambung!”

“Boleh saya tahu ini siapa?”

“Saya Lina.”

Dengan sebukit ingin tahu yang kian meninggi, perempuan itu menekan nomor hp “S” kembali. “Mohon maaf ya, tapi saya diberikan nomor ini. Apa betul ini Mbak N?”

“Nama saya Shinta! Saya di bandung bukan di Menteng. Saya lagi puasa! Salah sambung!” ketusnya.

Tapi tadi Lina, sekarang Shinta?

Perempuan itu kembali ke rumah dengan langkah yang semakin gontai dan airmata yang terus bercucuran. Ia sms kembali suaminya:

Siapa dia Bang? Mengapa?

Bkn siapa-siapa. Hny teman virtual. Aku malah tdk ingin btemu dngnnya. T id ak ingin tahu siapa dia. Aku hanya curhat.

Curhat? Mengapa bkn dengan aku saja, Bang? Maafkan aku, maafkan kekuranganku hingga Abang harus bpaling. Aku memang istri yang t id ak peka dan t id ak berguna. Aku merasa….

Sayang, aku yang minta maaf. Mungkin seumur h id up kamu akan terus terluka. Aku menyesal. Apapun kekuranganmu tak boleh membuatku berpaling darimu….

Hening. Airmata.

Entah bagaimana, tiba-tiba kata maaf dan penyesalan dari suaminya bertubi-tubi muncul di ponsel perempuan itu.

Tolong maafkan aku. Aku yang salah karena meladeninya. Aku mrs menemkn sosok ibu rmh tg yg baik pd drnya. Tlg maafkan aku. Jgn hkm dirimu krn keslhanku.

Aku yg slh, bdh, tdk peka. T id ak berguna sbg istri. Setelah ini mgkn aku tak sanggup lg mhadapi matahari.

Perempuan tersebut bersiap siap. Mungkin ia harus pergi. Entah untuk sebentar atau selamanya. Entah kemana. Mungkin ke tempat di mana matahari dan bulan tak ada. Ia menangis lagi saat menatap wajah anaknya.

“ Ada apa, Bu? Mengapa hari ini ibu menangis terus?” Tanya sang anak.

Ia tak sanggup menjawab, hanya memeluk. Lalu pelan ia berbisik, “ibu mendapat cerita sedih teman Ibu dari sms. Tolong doakan ya semoga semua baik-baik saja.”

“Tapi mengapa mata ibu sembab?”

Ia paksa membuat lengkung pelangi terbalik di wajahnya. Anaknya tersenyum dan bermain kembali.

Tolong maafkan aku. Hukum aku. Bencilah aku. Ini akan menjadi hukuman seumur h id upku, sms suaminya lagi.

Perempuan itu menatap cermin buram di kamarnya. Apa yang sudah aku lakukan? Apakah aku luput memperhatikan dia? Apa aku terlalu banyak di luar?
“Kamu sangat dibutuhkan masyarakat,” terngiang kata begitu banyak orang, juga suaminya. Benarkah? Tapi ia juga dibutuhkan suami dan anak-anaknya….

Sungguh, perempuan itu telah menetapkan rambu-rambu itu untuknya. Ia baru akan pergi setelah suami dan anak-anaknya keluar rumah dan tiba di rumah sebelum mereka pulang. Ia coba menyempatkan diri memasakkan suaminya, membuatkannya segelas susu setiap pagi. Apakah suaminya ingin ia juga mencuci dan menyetrika baju lelaki tercintanya itu dengan tangannya sendiri? Ia mau sekali. Namun cukupkah waktu untuk itu semua? Bukankah dulu suaminya juga yang berkata bahwa hal seperti itu bisa dilakukan siapa pun, namun apa yang perempuan itu kerjakan, sedikit saja perempuan yang mampu melakukannya.

Bantal yang menyangga kepala perempuan itu telah basah oleh airmata.

Izinkan aku menjelaskan semua. Tlg maafkan aku. Mohon bukakan pintu rmh untukku mlm ini…, jangan pergi….

Perempuan tersebut tak lagi membalas sms suaminya. Haruskah ia pergi malam ini? Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana pernikahan mereka? Haruskah berpisah? Ah, ia berharap kini ia tengah tert id ur, lalu kecupan mesra sang suami membangunkannya dari semua mimpi buruk.

Perlahan diseretnya kakinya yang seakan-akan melemah, ke kamar mandi. Ia siramkan air ke wajahnya. Lalu ia berwudhu. Ia harus segera menghadapNya untuk mendapatkan ketenangan. Bernaung dalam cintaNya di saat ia tak lagi merasa memiliki cinta sejati di dunia ini selain kasih ibu.

Ia tak tahu sudah berapa lama ia tersungkur di atas sajadah, ketika sayup-sayup terdengar langkah suaminya. Hari sudah larut. Penghuni rumah yang lain telah lelap. Ia hapus airmata di pipi dan bangkit. Ia akan membuka pintu rumah dan menghadapi sendiri seperti apa mimik suaminya saat mereka bertatapan pertama kali setelah peristiwa itu.

Tak ada kata kecuali salam yang diucapkan dan dijawab. Perempuan itu mencium tangan suaminya dengan kaku. Dan lelaki itu mengecup pipi, kening serta bibir sang istri, seperti sebuah ritual yang ia lakukan dengan kesadaran penuh

Baru beberapa langkah, lelaki itu memegang tangan istrinya dan berkata: “Bolehkah aku memelukmu?”

Perempuan itu hanya diam. Suaminya memeluknya dengan kuat diiringi bertubi maaf. Perempuan itu berderai-derai. Apakah ini suamiku? Atau entah orang asing mana? Ia merasa dirinyalah yang terasing di antara suaminya dan perempuan berinisial S itu.

Perempuan itu terlalu luka untuk mengumbar amarah. Ia hanya terdiam. Menjaga malam dengan matanya yang berembun. Namun suaminya tak juga beranjak dari sisinya.

Lampu telah mati sejak tadi. Mereka berbaring bersama bersisian. Setelah beberapa saat udara hampa kata, dengan suara bergetar lagi-lagi suaminya meminta maaf. “Aku yang salah. Aku egois. Aku tergoda. Meski kami belum pernah bertemu dan hanya berkirim email serta sms, aku telah mengkhianatimu.” Lelaki itu tak lepas mencium tangan istrinya.

Senyap. Perempuan itu menelan lukanya. “Siapa dia, Bang? Apa dia sudah menikah?”

Suaminya menyebut nama perempuan itu. Janda cerai h id up dengan dua anak. Ibu rumah tangga biasa. “Tapi kami belum pernah bertemu.”

Janda? Cerai h id up? Dua anak? Perempuan itu terhenyak. “Belum bertemu tapi mengapa begitu akrab? Ia bahkan tahu nama anak-anak dan saudara kita?”

“Karena aku sering bercerita padanya.”

“Dan dia? T id akkah dia juga sering bercerita?”

“Ya. Semua terjadi begitu saja. Mengalir begitu saja. Tiba-tiba di dunia itu kami menjadi sangat akrab…,maafkan aku….”

Sembilu memahatkan lagi luka yang nanah di batin istrinya. “Aku yang salah,” suara istrinya bergetar. “Mungkin terlalu banyak celah dalam diriku yang membuat perempuan itu bisa masuk dalam batinmu. Akulah pintunya. Mungkin karena aku terlalu sibuk. Mungkin karena aku tak pintar mengurus rumah tangga….”

“T id ak,” lelaki itu mengecup kening istrinya. “Itu salahku. Hatiku tak bersih. Seharusnya aku tak egois. Kamu istriku, adalah harapan banyak orang. Aku yang egois….”

“Kita sudah sepakat menjaga komunikasi. Aku tak mengerti. Aku memang bodoh dan t id ak peka,” kata perempuan itu lagi.

Suaminya terus menggenggam jemari istrinya, mengecup dan menaruh di dadanya.

Perempuan itu masih menangis. “Lalu apa, Bang? Apa yang harus kulakukan?”

Suaminya menarik napas panjang sambil membelainya. “T id ak ada. Aku yang harus bertobat. Aku malu pada Tuhan, padamu, pada dunia….”

Hening. Lalu ia dengar suaminya terisak dengan dada berguncang, mendekapnya erat. “Tolong beri aku kesempatan. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku tak akan pernah lagi berpaling darimu. Tak akan pernah meninggalkanmu….”

Perempuan itu menatap langit kamar yang kelabu. Belasan tahun bersama, berapa banyak kebohongan di antara mereka? Ia merasa mengenal suaminya sangat baik. Kalau ada lelaki di zaman ini yang tak pernah berbohong, maka ia begitu yakin itu adalah suaminya. Dan kini, apa yang tersisa dari keyakinan itu?

Ia gigit lagi bibir bawahnya dan masih menemukan asin darah yang sama. Ah, ia merintih menahan perih itu. Hampir setiap saat ia menampung keluh kesah para sahabat dan banyak teman tentang suami-suami mereka yang berselingkuh. Dan apa yang ia katakan? Kalau suamimu selingkuh, introspeksi dirimu. Baca kembali dirimu, mungkin ada yang keliru dengan buku h id upmu. Namun bila selingkuh itu telah sampai pada kontak fisik, engkau tak salah bila memutuskan pergi dari h id upnya. Dan bila itu terjadi padaku—kata perempuan itu—aku akan benar-benar pergi! Ah, tapi kan suamiku bukan seperti suami perempuan lain…, yakinnya dulu. Ya dulu sampai dengan hari itu.

Malam semakin larut dan dingin. Perempuan itu menggigil menyadari apa yang terjadi. Berapa lama? Tiga bulan, kata suaminya. Perempuan itu mengirim email lebih dulu. Suaminya menjawab. Semakin lama email-email itu kian panjang. Berseliweran setiap hari dan meningkat pada sms. Setelah itu? Perempuan tersebut berg id ik. “Kami belum pernah bertemu…,” terngiang lagi kata suaminya. “Aku hanya pernah melihat fotonya….”

Tapi sapa mesra itu?

“Maafkan aku…,”lirih suaminya. “Maafkan aku…,” katanya tak putus sambil mendekap istrinya yang kaku.

Bulan mulai lelah. Sebentar lagi mentari akan menggantikan tugasnya menerangi bumi. Namun apakah kata maaf dari suaminya dapat menerangi lagi batin perempuan itu?

Kaku sekali ia beringsut mendekati dengan suaminya. Ia rasakan letupan duka itu saat ia mendekap suaminya. “Maafkan aku juga….”

“Cinta, kamu tak salah, aku yang salah,” itu lagi kata suaminya. Lelaki itu terisak di dadanya.

Dengan mata yang terus terjaga perempuan itu berusaha menghentikan airmatanya. Ia bersyukur hari itu ia tak emosi, apalagi memaki-maki perempuan itu. Ia hanya introspeksi, meminta maaf pada suaminya dan mengadu pada Allah….

“Apakah aku masih diberi kesempatan untuk mendampingi dan menjagamu selamanya?” tanya suaminya.

Mereka bertatapan.

Dalam genangan lara perempuan itu mengangguk. Tapi ia sungguh tak tahu sampai kapan luka itu sembuh. Dan S? Ah, perempuan seperti apa yang tega menggoda dan mencoba merenggut kebahagiaannya?

Duka dan maaf berarak dalam kamar yang gelap. Sepasang cinta dengan sayap luka berdekapan hingga pagi menyapa. Berharap sabar dan sesal dapat melelehkan luka yang batu.

(untuk seorang sahabat, dengan empati yang dalam)

Ada apa, Ra? Mengapa kulihat kembali gurat pedih itu di wajahmu? Lalu seperti aliran sungai yang menderas, matamu pun bercerita pada mataku…

Ah, aku juga jadi tak mengerti. Mengapa suamimu masih menyimpan nomor telpon perempuan itu? Saat secara tak sengaja kau temukan sms-sms mesra itu di ponsel suamimu, naluri sebagai istri membuatmu hafal nomor ponsel perempuan itu.

Beberapa waktu lalu, suamimu memang telah meminta maaf, bahkan menangis mencium tanganmu berkali-kali. Suamimu juga berkata, ia telah menghapus semua tentang perempuan tersebut, termasuk nomor ponselnya. Ia juga berjanji tak akan lagi membalas email-email perempuan itu, yang membuat mereka semakin akrab berbulan-bulan. Tapi apa buktinya? Mana?

Kau merasa sangat perlu menjaga privasi suamimu. Karena itulah kau tak pernah ingin mengusik ponselnya, mencari tahu tentang apapun, termasuk hubungan antara suamimu dan perempuan itu yang kau kira telah tamat. Kau tahu suamimu sudah sangat menyesal. Hingga suatu saat, entah mengapa perasaanmu begitu tak enak.

Malam itu kau coba melihat kembali ponsel suamimu. Sebuah sms dari nomor tanpa nama tak mungkin bisa kau abaikan. Gaya bahasa perempuan itu! Meski tanpa kata cinta dan sapa mesra, kau tahu: perempuan itu menghubungi suamimu lagi, dengan nomor baru! Lalu kau catat kembali nomor tersebut. Tak perlu kertas. Luka telah menjadi pena yang lancar menggores kembali hatimu.

Kau diam. Hanya diam. Kau layani suamimu sepenuh hati, dengan keriangan yang terpaksa kau cuatkan dari nestapamu. Namun beberapa hari kemudian, saat suamimu lengah, kau cari nama yang mencurigakan dalam ponselnya. Mana? Di mana nama perempuan itu? Apakah suamimu sudi menyimpan nomor itu kembali? Kau terhenyak. Tak ada! Kau telusuri satu persatu nama dan kau cocokkan dengan nomor ponsel perempuan itu yang kau hafal sampai ke jantungmu. Kau terkejut! Sejak kapan suamimu mulai fasih (kembali) berbohong? Tiba-tiba kau merasa tak pernah mengenal suamimu sebelumnya. Sebuah nama lelaki yang mencurigakan dengan nomor ponsel yang terus menghantuimu, tertera jelas di sana !

“Supaya suamiku t id ak tahu, aku selalu pakai nama perempuan untuk selingkuhanku lho,” terngiang perkataan centil teman perempuan sekantormu. “Jadi dia t id ak mengira sama sekali bahwa Susi itu adalah Mas X,” tutur temanmu lagi. “Kadang namanya aku ubah sesukaku: Maryam, Imel, jenifer, Aisyah,” katanya cekikikan.

Kau beristighfar. Apakah itu juga yang dilakukan lelaki tercintamu?

Kau tak pernah membayangkan, suamimu tega menggali kembali luka yang ingin kau, yang ingin kalian lupakan atas nama cinta…dan kau masih bertanya-tanya sendiri, “Benarkah? sengajakah sang tercinta? Tak sengajakah? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Terbersit di pikiranmu untuk bertanya pada suamimu: mengapa? Tapi ada batu menindih l id ahmu. Bukankah suamimu “hanya” menyimpan nomor telpon perempuan itu? Itu tak lantas berarti mereka menjalin hubungan istimewa lagi bukan? Namun mengapa harus nama pria yang tertera di ponselnya? Mengapa sang tercinta tak jujur saja menyimpan nama dan ponsel perempuan itu sebagai teman, dan ia katakan padamu?

Kini semua nomor perempuan itu ada dalam genggamanmu. Dan kau belum memutuskan apa pun. Hanya luka menjelma pena tajam tak berhenti menulis kembali semua angka dalam batinmu, diiringi airmata….

Andai aku bisa sekadar membantumu, Ra….


“Kenapa, Ra?”

Suara di ponsel saya terdengar semakin terisak.

“Ternyata suamiku masih berhubungan dengan perempuan itu, Vy….”

“Astaghfirullah…,sejauh apa, Ra? Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Aku membaca sms2 yang belum sempat dihapusnya…,” suara Ra tercekat di kerongkongan. “Dia masih memanggil suamiku dengan sapa cinta….”

Aku menarik napas panjang. “Bagaimana balasan suamimu?”

“Aku lihat di bagian sent. Suamiku menjawab biasa saja…tapi memberikan atensi yang besar…,” tangis Ra makin keras. “Aku takut kehilangan suamiku, Vy….”

Aku ikut tersayat. Apa yang ada di otak dan hati perempuan itu? Ra orang baik, suami Ra orang baik, mereka keluarga yang bahagia dan kini….

“Perempuan itu bilang dia sakit…,dia juga bertanya soal no hp yang dia curigai sudah aku ketahui…,” tutur Ra lagi…

“Lalu bagaimana dengan respon suamimu?”

“suamiku udah nggak ngomong pakai cinta-cinta-an, tapi dia bilang nomor lama itu dihangusin saja…, dia meminta perempuan itu ganti nomor. Dia bilang dia akan belikan ponsel-nya! Membelikan ponsel, Vy!” Suara Ra tergugu. “Aku pusing, Vy…untuk pertama kalinya dalam h id upku, tiba-tiba aku ingin mati….”

“Ra…,sabar ya, Ra…sabar. Kamu lebih mendekatkan diri lagi saja pada Allah. Dia Yang Maha Menggenggam Hati. Minta sungguh-sungguh agar suamimu sadar…dan….”

“Apa, Vy?”

“Bicara dengan suamimu dan perempuan itu baik-baik….”

“Haruskah? T id akkah ia bisa membacaku?”

“Bukankah selama ini ia telah keliru membacamu? Suamimu bahkan tak menyadari kamu tahu sejauh ini. Bicara, Ra. Tanya mereka mau apa? Lalu kalau mereka tetap ingin meneruskan hubungan mereka, apa yang akan kamu lakukan, Ra?”

Suara di seberang telpon terdiam lama….

“Ra…?”

“Kalau memang dia lebih membutuhkan perempuan itu, aku akan mundur. Aku akan minta berpisah, Vy. Rasanya aku tak kuat menanggung semua ini. Mana anakku sedang sakit….”

Airmataku menetes….

“Ra?”

“Aku…,pedih sekali…Vy…lukanya sangat menganga….,” Suara Ra nyaris tak terdengar ….

Ah, Ra, kamu entah perempuan ke berapa yang akhirnya harus mengalami ini…. Dan perempuan itu? Hati macam apa yang ia miliki? T id akkah ia bisa mencari pria lain, tak lagi menggangu suami orang…dan menjaga jarak selamanya? Dan suami Ra…, t id akkah terbuka hatinya untuk mengoreksi diri? Kalau ada hal yang dia inginkan dari Ra dan belum ia temukan dalam diri istrinya itu, t id akkah ia bisa menyampaikannya? Ra siap berubah sesuai apa yang diinginkan suaminya, begitu tekad Ra. Bukankah mereka bisa bicara? Apa yang menghalangi itu?

“Ra….” hanya isakan yang tak berhenti.

Telpon terputus.


RA:

Akhirnya aku putuskan untuk bertanya padamu, Bang. Setelah batinku lelah terus menanggung pilu yang semakin menggunung dan menyesakkan dada.

Kau sangat terkejut dan tak menyangka aku tahu sebanyak itu bukan?

Pertama kali aku mengetahui tentang kalian memang belum lama, baru empat bulan lalu, ketika terbaca sms-sms mesra kalian dalam ponselmu yang tertinggal di rumah hari itu. Secara naluri, aku langsung menelpon perempuan itu, berpura-pura menanyakan sesuatu. Suara yang sangat ketus menyatakan salah sambung!

Malam ketika kau pulang, aku bertanya baik-baik padamu, Bang. Mulanya kau menyangkal. Namun setelah kutunjukkan bukti-bukti, kau menangis. Kau bilang kalian baru dekat 3 bulan saja dan hanya lewat email dan telpon. Dia curhat padamu, kau meladeni dan akhirnya kalian semakin akrab. Aku tahu kau tak pernah berdusta. Jadi ketika kau nyatakan kau bertobat dan meminta aku memaafkanmu sambil menangis, meski perih aku menerimamu kembali. Apalagi kau bilang, janda beranak dua itu, pernah mengajak bertemu tapi kau menolak. Dan menurutmu kalian belum pernah bertemu. Kau hapus segala tentangnya, juga nomornya di ponselmu.

Hari pun berlalu dan rumah tangga kita semakin baik. Ah, sebenarnya sejak dulu kita juga baik-baik saja kan ? Aku berusaha untuk lebih berubah lagi, mengikuti keinginan dan imajimu tentang seorang ibu rumah tangga. Sampai bulan ini entah mengapa aku mencium gelagat yang lain darimu.

Teman dekatku pernah berkata, ada beberapa tanda seorang suami berpaling:

Lebih suka jalan sendiri daripada bersamamu
Lebih mudah marah
Lebih memilih main game sampai larut malam daripada bicara denganmu
T id ak suka bicara soal keh id upan rumah tangga sendiri
Membawa HP ke sudut manapun meski hanya dalam rumah
Lebih memperhatikan penampilan , tapi tak membutuhkan saranmu
dll
Waktu itu aku cuma tertawa mendengarnya. Namun kemudian kuperhatikan, semua ada padamu. Kau tahu, Bang, aku sudah tak pernah lagi mau memeriksa ponselmu, sejak peristiwa pertama itu berlalu. Bukankah sejak dulu aku memang seperti itu? Aku ingin menghargai privasimu. Aku percaya padamu.

Lalu entah mengapa, sebulan lalu, perasaanku tak enak. Senja merah dan saat kau lengah, kubaca isi ponselmu. Memang tak ada sms mesra dari perempuan itu seperti dulu. Tapi seseorang bernama “Doni” mengirim sms padamu dengan gaya bahasa yang sama dengannya. Aku terhenyak dan seperti disadarkan. Mengapa, Bang? Mengapa kau jalin lagi hubungan dengannya, padahal kau sudah berjanji untuk setia padaku dan Allah setelah peristiwa pertama? Dan ia yang kau namai “Doni” adalah perempuan itu! Mengapa? Mengapa harus berdusta padaku dengan menyamarkan namanya menjadi nama lelaki?

Aku mulai mengerahkan semua panca indera, juga mata ketigaku untuk melihat hubunganmu dengannya.

Tanpa setahumu, aku menyel id iki perempuan itu. Aku tahu nama, alamat, juga nomor-nomor ponselnya. Aku tahu siapa dia, mengapa ia bercerai dari suaminya, dan lain-lain.

Ketika ada beberapa kali kesempatanmu menginap di kota B, kau pergi dengan sangat riang. Entah mengapa suatu hari, aku terusik dan…mengikutimu!

Aku tahu di sana kau memang benar-benar bekerja, Bang. Tapi aku merasa kau pasti pernah bertemu dengannya, set id aknya saat itu, kala aku menemukan kalian dengan mata kepalaku sendiri. Kalian makan minum bersama di tempat yang kau bahkan belum pernah mengajakku ke sana . Aku melihat caramu dan cara dia menatap satu sama lain. Dan kau tak menyadari bukan? Dengan tubuh menggigil karena kehujanan, aku berdiri di dekat jendela, lalu bergeser ke pintu dan memandang kalian dengan penuh luka…Kau, dia tertawa-tawa dengan mesranya, tanpa beban…Dadaku berdegup keras. Ingin rasanya aku melabrak kalian! Atau kalau t id ak, sekadar mendatangi dan memandang kalian dengan mata lara.

Namun sebuah sms dari anakmu menyadarkanku untuk pulang malam itu juga dari Kota B kembali ke Jakarta . Sepanjang jalan, dalam kendaraan umum, aku menangis. Ah, apa yang bisa kulakukan lagi saat itu selain menangis?

Ketika kau pulang, aku belum ingin berkata apa pun. Belum. Aku tetap mencoba melayanimu dengan riang. Aku berharap dengan ketulusanku, kau tergugah dan lebih mencintaiku, lebih mencintai keluarga kita yang telah terbangun belasan tahun ini.

Kemarin, entah mengapa aku gulana. Firasatku mengatakan ada yang tak beres. Saat kau ke kamar mandi, kulihat ponselmu. Benar, dia menghubungimu lagi! Dia bercerita bahwa dia sedang sakit dan mau ke rumah sakit bersama ibunya. Dalam sms lain ia bilang ia ingin ganti nomor ponsel karena merasa tak nyaman memikirkan mungkin aku tahu nomornya. Yang membuatku lebih tersentak adalah ketika di bagian sent yang belum sempat kau hapus, kau katakan padanya untuk menghanguskan nomor lama dan menggantinya dengan nomor CDMA seraya mengatakan kau yang akan membelikan ponselnya!

Pagi itu saat kau pamit ke kantor dan mengecupku, tubuhku bergetar menahan tangis yang nyaris meledak. Tapi kau tak membacanya…,kau memang tak pernah bisa membacaku dengan benar, Bang…

Lalu kemana aku harus berbagi cerita dan meminta saran? Kebanyakan temanku lelaki. Tapi apakah aku akan mengulang jalanmu dengan curhat pada mereka, lalu jadi makin dekat dan akhirnya berpeluang besar menghancurkan rumah tangga mereka? T id ak. Aku tak pernah mau ambil resiko. Aku hanya ingat seorang teman yang menyarankanku untuk menuliskan semua beban h id up agar terasa ringan. Aku bercerita padanya.

Dia mengatakan agar aku berani bicara padamu lagi. “Komunikasi adalah kunci utama keutuhan sebuah rumah tangga,” katanya.

Sebelum bicara padamu, mungkin juga pada perempuan itu, aku mendapat kekuatan dari sebuah tempat yang tak pernah kuduga: multiply! Di webnya, sahabatku mengangkat persoalanku dengan jati diri yang disamarkan. Kau tahu, Bang? Begitu banyak simpati, empati yang menghiburku. Mereka juga memberikan saran-saran yang sangat baik dan bisa langsung kuterapkan! Ah, aku berhutang budi pada mereka semua….

Awalnya aku mengirim sms…sebuah doa untukmu. Kau menjawabnya dengan riang, dan mengucapkan terimakasih. Lalu kukirim sms pada sahabat perempuanku, bahwa aku mengetahui hubungan kalian lebih jauh. Tapi Allah berkehendak lain. Jari-jariku lincah mengetik sms yang kemudian malah terkirim padamu itu!

Baru setengah jam setelah itu kau membalas. Kau bilang kau tetap cinta padaku. Kau akan bertobat dan kau meminta maaf untuk kedua kalinya (tak akan ada kata maaf yang ketiga. Aku berjanji padamu dan Allah, tulis sms mu). Aku masih terguncang, namun kutahan tangis saat menatap wajah anak kita. Saat itu aku sedang di rumah sakit, memeriksakan kesehatanku dan anak kita. Untuk pertama kalinya, kukirim sms pada dua nomor hp milik perempuan itu. Bukan amarah yang kukirim, hanya sebuah pertanyaan: Mengapa Anda memanfaatkan situasi dan terus menghubungi, mengganggu suami saya (jangan bilang anda tak memanggilnya cinta). Apa salah saya pada Anda? Tak ada jawaban. Tak pernah ada.

Malamnya kau pulang dan kita bicara baik-baik, meski aku sempat menangis sesenggukan. Aku minta kau bicara sejujurnya. Kau lebih banyak diam dan mendengarkanku dengan wajah menyesal.

“Jadi apa target hubungan kalian?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Tak ada,” paparmu. “TTM…”

Aku mual mendengarnya. TTM (Teman Tapi Mesra). Itu akan jadi lagu yang paling kubenci di dunia ini!

“Dulu abang bilang tak pernah bertemu dengannya. Mengapa abang berdusta?”

Kau menciumku dan berulangkali minta maaf. “Hanya mengobrol, curhat-curhatan saja. Tolong maafkan aku….”

Hatiku semakin ngilu.

“Bisakah aku memaafkanmu, Bang? Mungkin bisa…tapi t id ak sekarang….”

Aku lalu memintamu untuk istikharah memilih aku atau dia…

Kau mendesah. “Aku tak ingin kita berpisah. Aku memilihmu. Aku masih mencintaimu,” bisikmu. “Aku tak akan berhubungan lagi dengannya, dalam bentuk apa pun.”

Aku masih menangis.

Esoknya keadaan agak membaik. Kau lebih memperhatikanku dan masih terlihat menyesal. Kau bahkan mengatakan tak ingin membawa HP dan memberiku password dua email-mu. Ketika kutanya nama lengkap dan alamat email perempuan itu, kau memberikannya….

Ketika berangkat kerja aku sudah berpikir , kau menyesal dan tak ingin mengulangi. Kau telah berkata sejujur-jujurnya. Maka apa yang menghalangiku untuk tak memaafkanmu? Pagi itu dari atas bis kota aku mengirim sms maafku padamu dan kau menyambut dengan sukacita. Kita mulai lagi dari awal ya…kita berjuang bersama, sayang! Kiss u! sms-mu.

Berakhir, pikirku. Berakhir…saatnya memaafkan….

Sore itu, iseng saja, kubuka emailmu—hal yang tak pernah kulakukan selama belasan tahun kita menikah. Kucek semua email darinya. Tak ada. Ah, tentu saja sudah kau hapus bukan? Namun aku tak menyerah…kuteliti lagi…! Dan aku terpana, melihat tiga imel dengan id yang berbeda, tapi tetap darinya. Mungkin kau lupa menghapusnya….

Ah, ternyata banyak yang tak kutahu tentang kalian. Sampai kemarin kau masih mengatakan hubungan kalian baru bulan puasa 2005 kemarin. Namun aku menemukan email dari perempuan itu pada tahun 2004, bahkan 2003! Rasanya aku ingin pingsan! Mengapa? Mengapa Abang tak jujur padaku? Kalian sudah menjalin hubungan selama 3-4 tahun! Ya Allah, sudah sejauh mana? Dalam email itu baru kusadari kalian tak pernah berkenalan melalui internet, email. Pada email bertahun lalu itu perempuan itu curhat padamu mengenai perceraian dengan suaminya. Suaminya terlibat hutang ratusan juta, dan perempuan itu dalam kesulitan ekonomi. Aku juga tahu kau sangat peduli padanya dan meminjamkannya sejumlah uang….sejak lama….

Kuraih ponselku. Minggu ini juga, aku ingin bertemu denganmu dan perempuan itu, untuk membicarakan persoalan kita dan hubungan kalian yang telah empat tahunan itu. Mungkin aku memang harus pergi. Mengapa kau harus berdusta, Bang?

Tiba-tiba kepalaku pusing, Bang…aku terjatuh dan tak ingat apa-apa lagi. Lamat-lamat hanya kudengar suara anak-anak berteriak. “Panggil taxi, ibu pingsan! Ayo. Cepaaaat! Kita ke rumah sakit!”

Ketika sadar, kulihat aku ada dalam dekapanmu. Kau membelai dan menciumku bertubi-tubi disertai kata-kata yang itu juga: “maaf”. Kulihat matamu basah….

Tapi aku terlalu lemas untuk menyapa. Hancur. Aku hanya mampu bertanya lemah, “Mengapa, Bang? Mengapa?”

Malam itu baru kau ceritakan semuanya secara utuh. “Aku takut kamu marah dan tak mau menerimaku lagi kalau aku ceritakan semua…,”katamu terisak. “Aku takut….maafkan aku….”

Aku hanya menatapmu dengan mata bengkak, nyaris tanpa kedipan…., “Mengapa?”

Pertemuan pertama kalian terjadi saat kau kelas V SD di sebuah kota . Ia satu angkatan dengan adikmu. Tapi kalian tak pernah mengenal satu sama lain. Sampai empat tahun lalu, saat terjadi reuni, kalian bertemu kembali. Lalu semakin akrab. Saat itu ia curhat padamu tentang suaminya yang terlibat hutang ratusan juta. Ia memintamu mencarikan pekerjaan untuk suaminya. Maka kau yang baik hati pun benar-benar membantu, bahkan bolak balik ke kota B hanya untuk itu. Tapi suami perempuan tersebut benar-benar bermasalah, mereka bercerai dan kalian semakin dekat. Kau bahkan beberapa kali menginap di rumah perempuan itu!

“Tak terjadi apapun,” katamu bersumpah atas nama Allah. “Sentuhan fisik hanya terjadi saat kami bersalaman….”

“Apakah aku harus percaya itu?” aku sesenggukan….

“Aku sudah menceritakan semua, tak ada lagi yang kututupi,” katamu sambil membelaiku.

Aku hampa. Hambar….”Kalau kau mau pergi dari h id upku, inilah saatnya, Bang…aku rela…,” kataku pedih. “Aku juga tak mau menerimamu lagi kalau kau pernah melakukan itu dengannya….”

Kau terus mendekapku. “T id ak. Kami tak pernah melakukan itu. Ya Allah, aku tak ingin kehilanganmu,” ujarmu berulangkali….

“Aku tak bisa terus menerus memaafkanmu…,” lirihku sambil mengusap mataku yang memerah dan semakin membengkak..

“Ini yang terakhir, yang terakhir…,”katamu sambil mendekapku lebih erat. “Aku tak akan pernah meninggalkanmu selamanya! Tak akan….”

Empat tahun. Aku ingat empat tahun terakhir inilah aku kehilanganmu, suamiku. Kau yang dikenal sangat alim, kerap sholat subuh kesiangan. Kau juga mudah tersinggung, mudah marah, malas ngobrol dan seolah tak memperhatikanku. Kau memang lebih memperhatikan penampilan, tapi tak pernah meminta saranku. Kau lebih suka main game sampai lewat tengah malam, daripada berbicara denganku. Hubungan kita benar-benar hambar dan formal. Kau selalu sibuk dengan kerja, kerja dan kerja. Empat tahun ini tak pernah kurasakan kehangatan, juga dalam hubungan suami istri yang sekadarnya itu…. Empat tahun ini kau seperti bukan dirimu!

Suara kentongan berbunyi dua kali. Kau masih mendekapku erat. Saat itulah kau berkata, kau seperti disentakkan. Kau merasa hubunganmu dengan Allah buruk sekali empat tahun terakhir. Kau juga sudah jarang mengaji. “Karena itulah aku lebih mudah tergoda dan berbuat hina seperti ini. Memalukan sekali. Maafkan aku…,aku akan memperbaiki hubunganku dengan Allah, dengamu…maafkan aku sayang…,aku sadar. Aku akan menebus empat tahun yang hilang itu…ya Allah saksikanlah janjiku….”

Kita menangis bersama. Aku tahu sekali, Bang…pada dasarnya kau lelaki yang sangat baik. Kau tahu? Itulah sebabnya bertambah tahun, bertambah cintaku padamu….

Dan kau benar, hubungan yang rapuh denganNya membuat kita mudah tergelincir. Aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk memperbaiki diri, memperbaiki hubunganku dengan Allah, memperbaiki peranku sebagai istri, ibu sejati…dan semoga kita tak akan pernah saling menyakiti dan kehilangan lagi satu sama lain….

Malam itu kita bercinta dengan sepenuh hati. Ya, sepenuh hati, untuk pertama kali setelah empat tahun. Masih ada luka…, namun sungguh tak tergambarkan keindahannya bagiku….

“Aku mencintaimu dan tak akan pernah mau berpisah denganmu…,”bisikmu, “Maafkan aku, Cinta….”

Terimakasih untuk Helvy dan teman-teman multiply yang banyak memberi perhatian, saran sepenuh cinta dan doa. memang masih tersisa perih, tetapi kisah duka kami telah berakhir bahagia. Aku memutuskan memaafkan Abang dan melupakan semua nestapa, untuk terakhir kalinya….

Semoga kalian juga bahagia…amiin…

Salam, RA

Read Full Post »

Dulu aku tidak mengenal apa itu namanya cinta. Dimulai sejak aku smp dulu, aku mengenal seorang wanita yang begitu istimewa, menurut pandanganku dia adalah wanita yang sangat perfect yaaa…walaupun aku belum mengenal dy begitu dekat. Tapi aku mulai penasaran apa yang terjadi dengan hatiku, dan aku muali menyelidiki isi hatiku…cieeey kya detektif yach!!!. Aku mulai ingin tahu apa yang terjadi dengan hatiku kenapa hatiku tertambat pada seorang gadis seperti dy.

Mungkin ini yang dinamakan cinta monyet…mmmmm!!!yach bisa dikatakan seperti itu,,,dan memang benar setiap kali aku bertemu dengan dy hatiku, jantungku, seluruh tubuhku seperti ada yang mengontrol. Aku tidak bisa berpikir logis apa yang harus kulakukan..tiba-tiba keringat dingin bercucuran di keningku, seluruh badanku basah. Baju seragamku seperti baju yang baru dicuci….uuuuuhhh kenapa mesti begini sich!!!Selalu saja tiap bertemu dengan dy bajuku selalu saja basah!!!sampai orang tuaku bertanya kenapa bajumu basah,,,padahal tidak hujan!!!!yaaaa aku hanya bias tersenyum kecut.

……..bersambung

Read Full Post »

Penulis : Gola Gong

Grace menatapku dengan kesal dan marah. Wajah cantiknya menyiratkan ketidakrelaan. Gadis Menado yang setahun ini jadi pacarku, tiba tiba saja merasa seperti tersengat listrik, saat aku memberitahu akan mengisi summer holiday ke Bogor.

“Bogor? You are so crazy!” Grace terbelalak. “Mau apa kesana?! Kota macet seperti itu!”

“Memangnya, kamu pernah kesana?”

“Yah, lewat sajalah! Waktu itu aku ada pesta di Puncak! Lewat kota itulah! Macetnya minta ampun!”

“Tapi, aku mesti ke Bogor!”

“Aku heran saja! Bagaimana bisa? Kalau Bali, that’s okay! But, ini Bogor! Mimpi apa kamu semalam? Apa istimewanya Bogor?”

“Aku ingin melihat negeriku, Honey.”

“Damn! Ini tidak masuk akal. Pasti ada alasan lain!”

Aku diam saja. Memang ada alasan lain. Tapi tidak akan aku beritahu dia. Bisa perang dunia keempat.

Grace gelisah. Tubuh bagian atasnya yang hanya memakai t-shirt ukuran sedada saja, sehingga kulit putihnya terlihat mencolok mata, dikipas-kipas dengan kedua tangannya. Udara bulan Juni di University of Kansas, sangat panas. Berbeda dengan panasnya di kotaku, Surabaya, yang lembab dan mudah berkeringat. Di Kansas sangat panas dan kering. Daun-daun yang mulai menguning, dua bulan lagi tinggal menunggu autum session, akan gugur menimpa areal kampus. Jika sudah musim gugur, suasana kampus akan sangat semarak dan berwarna-warni, karena itu berarti akan dipenuhi dengan beragam pakaian musim dingin. Ini yang aku suka, karena tubuh cewek kampus rata-rata terbalut busana tebal yang unik dan antik. Aku paling tidak tahan, jika pada summer time seperti sekarang ini, kemana saja mata memandang, wuaduuuh…

“Bogor..,” Grace menggelengkan kepalanya.

“Malu ‘kan, sebagai warga Indonesia, aku belom pernah ke sana!”

Beberapa mahasiswa lalu-lalang di areal Lawrence campus. Yang lelaki bule bertelanjang dada dan memakai celana bermuda. Kaos atau kemejanya diikatkan di pinggang. Beberapa ada yang menenteng skate board. Sedangkan cewek kampusnya memakai tank top. Udara kering. Panas menyengat. Aku dan Grace rebah-rebahan di rumput, di bawah pohon.

“So, kamu tetap tidak mau memberitahu alasannya, kenapa liburan ke Bogor?”

Aku menggeleng.

“Okey, jika itu maumu!” Grace bangkit dan meninggalkanku. Dave, room mate, menertawakanku. Dia juga sama, menyebut aku gila. Dave sendiri sudah punya rencana mengisi summer holiday dengan berjemur di pantai Cancun, Mexico. Kata Dave, cewek Mexico seksi-seksi kalau sudah berbikini di pantai. Apalagi jika berpesta di pantai malam-malam dengan bir dan hasis! Beberapa teman Indonesiaku malah memilih bekerja sebagai pelayan di restoran.

Papaku yang bekerja sebagai diplomat di Chicago juga merasa heran. Bukannya summer holiday diisi dengan jadi bagpacker; keliling Amerika, ini malah berlibur ke Bogor. “Kamu ini ada-ada saja, Feb! Kok, malah ke Bogor! Apa menariknya kota itu!”

Aku tersenyum. “Papa pernah ke Bogor?”

Papa melirik ke Mama. “Pernah nggak, ya?”

“Lewat saja. Sewaktu kita menghadiri seminar di Puncak. Lewat highway…Macetnya minta ampun….”

Grace juga cuma lewat dan macet juga disebutnya. Dari mama lantas meluncur gerutuan-gerutuan, bahwa biang kerok negeri kami memang kemacetan. Itulah yang selalu membuatnya urung pulang; menengok kampung leluhur di Surabaya.

Aku anak tunggal. Papa dan Mama tidak tertarik untuk memberiku adik. Mereka lebih asyik meniti karir. Papa di atase ekonomi, sedangkan Mama aktivis perempuan di mana saja dia berada. Tulisan-tulisannya tentang feminisme ala Asia mewarnai koran-koran setempat. Latar belakang ketimurannya membuat tulisan-tulisannya menarik. Aku pernah membaca tulisannya tentang emansipasi. Mama menyebut tentang sebuah nama, RA Kartini. Aku tidak tahu siapa wanita Jawa yang dijadikan istri kedua itu. Mama menulis, bahwa emansipasi pada dasarnya adalah pemberontakan kaum perempuan pada hegemoni lelaki. Tapi di Indonesia, hal itu hanyalah lip service belaka. Sekedar tren atau bahkan semu. Ah, itu bukan urusanku.

Kadang aku suka menganggap aku ini anak durhaka. Di paspor tertulis warga negara Indonesia, tapi kalau ditanya tentang kebudayaan negeriku, tak aku kuasai. Aku lahir di New Zealand. Kata Papa dan Mama, saat umurku dua tahun, pernah dibawa mereka ke tanah leluhur di Surabaya. Setelah itu, Papa lebih banyak berpindah-pindah ke negara lain sebagai diplomat. Paling lama di India, sekitar lima tahun. Aku menghabiskan masa remaja di New Delhi. Pernah pacaran dua kali dengan gadis India. Setelah itu setahun di Spanyol, Maroko, dan kini di Chicago. Aku sudah setahun di Kansas. Kuliah mengambil jurusan ekonomi. Tak ada waktu untuk pulang ke negeri leluhur. Itu mungkin karena kengerianku saja saat melihat tayangan-tayangan televisi di CNN; bom di mana-mana. Aku sudah jadi warga dunia, yang tak mengenal tanah leluhurnya; Indonesia. Papa dan Mama pernah berjanji, bahwa tahun depan akan berlibur ke Indonesia. Tapi mereka tidak tertarik menghabiskan hari tua di Indonesia. Mereka memilih suatu tempat di Italia.

***

Pesawat American Airways mengepakkan sayapnya, menembus angkasa. Pesawat nanti akan transit dulu di Dallas, lalu San Fransisco. Dari sini pindah pesawat ke Singapore Airlines. Pesawat transit lagi di Taipei, Singapura, dan tujuan terakhir Jakarta, ibu kota negeri leluhurku, yang belom pernah aku injak. Dua puluh dua jam mengambang di udara! Menyebalkan!

Dari kaca jendela, aku melihat Kansas City yang datar; ladang-ladang gandum menyebar di mana-mana. Warnanya kuning keemasan. Aku juga masih bisa melihat air mata Grace menitik di depan pintu masuk MCI – Kansas City International Airport. Aku tadi menghapus air matanya.

“Aku Cuma ke Bogor,” senyumku. “just a week!”

“Aku tahu, seseorang sedang menunggumu disana. A girl!”

“Please, jangan bersikap bodoh! Dewasalah!”

Grace tidak mengangguk. “We’ll see!” dia membalik, “Good bye!”

Aku tidak menjawab. Aku tatap dia sampai menyeberangi jalan dan menuju tempat parkir. Sampai dia masuk ke dalam mobil dan pergi. Mungkinkah ini akhir dari hubungan kami? Grace yang cantik dan manja. Dia tidak beda denganku, jadi warga dunia. Tapi, dia sering pulang berlibur ke Indonesia. Tempat yang paling dia gemari selain kampung halamannya; Menado, adalah Bali. Ke Jakarta? Grace mengacungkan dua jarinya. “ Tidak tahan macetnya!” begitu alasannya.

Burung besi terus menembus gumpalan awan-awan, menyusuri garis langit beribu-ribu mil jauhnya. Ini adalah perjalanan panjang udaraku. Indonesia, oh, Indonesia. Aku datang padamu. Kalau saja bukan karena Nicky, gadis SMA, yang sudah jadi sahabatku selama tiga bulan di internet, aku mungkin tidak akan datang ke Bogor, kota yang katanya sebagai kota satelit Jakarta.

Aku masih ingat, email terakhir yang Nicky kirim : Bogor adalah kota di mana kami bisa berbahagia. Kota hujan. Kota yang penuh dengan pohon tua dan ratusan rusa di istana. Datanglah jika kau mau. Aku akan membuat kamu mencintai negeri leluhurmu.

Ya, itulah rahasia besarku, kenapa aku sangat ingin pergi ke Bogor. Nicky, gadis itu. Papa, Mama, apalagi Grace, tidak aku beritahu soal ini. Konyol. Bahkan Dave, bule dari LA, yang mendambakan gadis Perancis dan ingin bungee jumping di menara Eiffel.

Nicky, entah kenapa aku tertarik ingin menemui gadis itu. Indonesian girl. Aku tersenyum sendiri. Sepanjang hidupku, aku baru berpacaran dengan gadis Indonesia, ya, Grace itulah. Tapi, Grace bukan gadis Indonesia asli. Dia sudah multikultur dan jauh lebih Amerika ketimbang gadis Amerika sendiri. Dan aku merasa bosan berpacaran dengan Grace. Tak ada sesuatu yang bisa mengisi relung hatinya. Hampa. Semu. Seperti jika dia sedang menenggak bir, lalu mabuk sesaat, setelah dibawa tidur, saat bangun, semua selesai. Tak tersisa.

Aku rogoh kantung luar tas punggungku. Ada beberapa lembar email dari Nicky, yang sengaja aku print. Aku baca lagi. Ada satu surat yang membuatku terusik atau merasa terganggu: Kau beruntung bisa mendapatkan apa yang kau mau. Semua fasilitas tersedia. Tapi, sadarkah kau, bahwa uang yang kau dan keluargamu pakai, juga semua keluarga yang bekerja di KBRI-KBRI seluruh dunia, adalah tak sepadan dengan kontribusinya terhadap negeri ini. Kau tahu, betapa beratnya hidup di negeri leluhurmu, yang tak punya status dan kehormatan atau kesempatan seperti yang kau dapatkan. Kau dan keluarga dengan enak menikmati semua fasilitas dari negeri leluhurmu, yang sedang sekarat dan carut-marut. Jika kau lulus kuliah nanti, apakah terpikir akan pulang dan membangun negeri leluhurmu? Aku yakin tidak.

Ada yang mengganjal hatiku. Ada yang membuatku penasaran tentang Nicky, yang wajahnya saja aku tak pernah tahu. Aku coba surfing tentang negeriku, terutama tentang Bogor. Yang aku dapati seperti ini : Kota Bogor secara geografis terletak di antara 106’ 48’ BT dan 6’ 26’ LS, kedudukan geografis Kota Bogor di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya sangat dekat dengan Ibukota Negara, merupakan potensi yang strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dan jasa, pusat kegiatan nasional untuk industri, perdagangan, transportasi, komunikasi, dan pariwisata. Luas wilayah 11.850 Ha terdiri dari 6 kecamatan, 68 kelurahan.

Itu saja. Aku pernah coba searching nama “Nicky”. Hanya ada satu nama Nicky yang populer, penyanyi rock “Nicky Astria”. Tak ada lagi. Berarti “Nicky”-ku adalah orang kebanyakan. Rakyat biasa. Apa dia perempuan? Aku pikir, iya. Aku bisa merasakannya dari kata-kata yang digunakannya. Pilihan katanya menggelorakan perasaan seorang perempuan.

***

“Ini istana Bogor,“ kata supir taksi. Dia meminggirkan taksinya di dekat trotoar. Sudah ada beberapa mobil berhenti. Aku belum mau turun dari taksi. Gila! Betul kata Grace dan Mama, bahwa kemacetan di kota Jakarta bukan lagi penyakit biasa, tapi sudah seperti kanker. Dari Soekarno-Hatta International Airport ke Bogor memakai waktu hampir tiga jam. Padahal jaraknya tidak lebih dari 70 kilometer. Lewat highway – supir taksi bilang tol Jagorawi – pula! Bagaimana ini?! Aku lihat, volume kendaraan tidak seimbang dengan beban jalan. Aku membaca di rambu-rambu, ada istilah “tree in one”, yang kata supir taksi itu untuk mobil-mobil pribadi. Dari supir taksi yang ramah, aku diberi tahu, bahwa orang-orang Jakarta lebih suka keluar dari rumah memakai mobil pribadi. Jika diandaikan sebuah keluarga mempunyai sepuluh mobil, berarti dari mulai ayah, ibu, anak bahkan sampai pembantu akan keluar memakai mobil masing-masing satu. Si ayah ke kantor, si ibu pergi arisan, si anak ke kampus atau ke sekolah, serta si pembantu pergi belanja untuk keperluan dapur. Untuk menghambat volume kendaraan, akhirnya diterapkanlah “tree in one”, agar mobil-mobil itu berfungsi baik, mengangkut penumpang dalam jumlah yang sesuai dengan bangku yang ada. Tapi, aku diperkenalkan lagi dengan “joki”; orang-orang yang berprofesi sebagai penumpang “tree in one”; untuk mensiasati peraturan itu. Wah, kreatif juga anak-anak negeri leluhurku itu.

“Bagaimana? Mau turun?”

“Sebentar, Pak,” kataku. Mataku melihat ke sekitar. Beberapa kendaraan berwarna hijau – kata supir taksi, itu angkutan umum! – berhenti sembarangan saja. Tidak peduli larangan stop atau malah lebih gila lagi, di tengah jalan! Supir-supir itu pasti tidak berpendidikan! Berhenti menurunkan penumpang di tengah jalan! Tidak di halte! Tubuhku lelah. Di angkasa dua puluh dua jam! Jet lag! Stress! Ingin marah, tak bisa apa-apa. Aku ingin tidur, tapi kepalaku pusing. Huh! Dimana kau, Nicky!

Aku melihat ke sisi kiriku. Pagar tinggi mengelilingi. Nun jauh ditengah-tengah, di antara batang-batang pohon besar, ada sebuah istana. Kata Nicky, itu adalah istana Bogor; tempat presiden pertama negeri leluhurku Ir. Soekarno, beristirahat. Kata Nicky lagi diemailnya, presiden kedua, Soeharto, tidak pernah beristirahat di istana ini. Ada lagi yang membuatku takjub, ratusan binatang bernama rusa dengan tenangnya berkeliaran. Bahkan beberapa ekor rusa menyembul di sela-sela pagar. Aku lihat beberapa keluarga turun dari mobil. Anak-anak mereka mendekati pagar dan memberi rusa-rusa itu makan. Aku jadi ingat email Nicky tentang rusa-rusa ini. Presiden keempat, Gus Dur, sering berpesta rusa di sini.

Aku rogoh saku. Aku beri tip. Supir taksi tampak gembira sekali. Tidak ada lima puluh dollar ongkosnya! Tidak ada masalah. Lalu aku buka pintu. Supir taksi membukakan bagasi. Ransel North Face digeletakkan di trotoar. Aku seret dan merapat ke dinding pagar. Beberapa orang sebayaku melintas. Ransel di punggungnya bermerek sama dengan ranselku. Wah, hebat juga! Aku betul-betul lelah.

Aku coba melihat ke balik pagar. Ratusan rusa bertebaran mengunyah rumput. Di seberang pagar ada sungai pembatas. Bening airnya. Beberapa ekor rusa turun untuk minum. Beberapa lagi menyeberangi sungai dan naik mendekati pagar. Anak-anak dengan tawanya yang riang memberi mereka makan sayuran.

Nicky, dimana? Di email terakhirnya, dia menyuruhku untuk menunggu di depan istana Bogor. Di trotoar. Sambil melihat anak-anak sedang memberi makan pada rusa. Dia akan datang memakai mobil berwarna hijau. Aku lihat tadi, begitu banyak mobil berwarna hijau. Kata supir taksi tadi, itu kendaraan umum. Semua yang ditulis Nicky sama persis dengan yang aku lihat sekarang. Aku lihat jam; pukul dua belas siang! Panas! Tapi tubuhku berkeringat; terasa segar. Sudah dua botol air mineral aku minum habis.

Aku mencoba memetik ranting daun dari pohon trembesi, yang menjuntai. Aku sodorkan lenganku melewati celah pagar. Mulut rusa mengunyahnya. Asyik juga. Di Kansas hal ini tidak pernah aku lakukan. Aku lihat di sebelah kananku seorang gadis dengan wajah ditutup kain – kata Mama itu adalah jilbab, pakaian khas orang yang beragama Islam- sedang membagi-bagikan sayuran pada anak-anak. Gadis itu seumuran Grace, membawa sekantung plastik sayur-sayuran. Walaupun aku hanya bisa melihat sebagian wajahnya, aku merasa pasti bahwa dia cantik sekali. Di belakangnya ada seorang junior high school, juga membagi-bagikan sayuran untuk makanan rusa. Aku yakin, anak kecil itu adik dari gadis berjilbab.

“Mau sayurannya?” tiba-tiba saja gadis berjilbab itu sudah berdiri di depanku.

“For Free?” aku kaget.

Si gadis tersenyum, “Yap! For Free! Gratis alias teu kudu mayar!”

Aku mengernyitkan dahi mendengar kalimat terakhir yang agak aneh di telingaku; gratis dan teu kudu mayar! Gratis, aku tahu. Tapi, “teu kudu mayar?”

“Sama saja artinya, for free!” dia tertawa.

Aku tersenyum, “Thanks!” Aku ambil beberapa ranting.

“Kapan datang?”

Tangan aku tarik lagi. Tapi mulut rusa sudah memakan sayurannya. Aku lepaskan sayuran itu. Aku tatap si gadis berjilbab. “You must be Nicky!” aku merasa surprise.

Dia tertawa.

Aku menyodorkan tangan; bermaksud berjabatan tangan. Tapi, Nicky menyatukan kedua telapak tangannya di dada dan tersenyum. “Selamat datang di kota Bogor,” katanya.

Aku gugup. Dia tidak menjabat tanganku. Apakah aku membawa penyakit menular? Tapi, dari senyumnya, aku yakin Nicky tidak bermaksud menghinaku.

“Pasti capek, ya?” tanyanya.

“Iya. Very tired!”

“Kenalkan, ini adikku,” Nicky mengenalkan anak kecil, yang masih membagi-bagikan sayuran ke anak-anak.

Aku tersenyum pada adiknya. Aku betul-betul kikuk.

“Ayo, kamu check in dulu!”

Aku mengangguk.

“Jalan kaki saja, ya.”

Walaupun aku capai, aku menurut saja. Aku sandang ransel di punggungku. Aku berjalan di sisinya. Tapi Nicky menjaga jarak, tidak mau terlalu dekat. Adik lelakinya berjalan dibelakangku; kesannya mengawal kami. Tapi Nicky asyik-asyik saja.

“Wajahmu nggak bule-bule amat!”

“Papa dan Mama asli Indonesia!”

“Iya juga, ya!”

“Adikmu…, ikut kita?”

“Yap!”

Aku menyeret kakiku, berjarak sekitar dua meter di sebelah Nicky. Kalau berjalan bersama Grace di Kansas, lain sekali. Kami biasa berpelukan. Bahkan berciuman bukanlah sesuatu yang tabu. Tapi, dengan Nicky, yang berjilbab. Aku merasa tidak pantas berjalan di sisinya. Aku jadi serba salah.

“Malu ya, jalan dengan aku?”

“Oh, no, no!” Aku kaget. Aku tidak ingin jauh-jauh datang ke Bogor, mengambang dua puluh dua jam di udara, hanya meributkan soal keyakinan seseorang. Aku sendiri bingung, memeluk agama apa. Papa dan Mamaku tidak pernah menyuruhku untuk memeluk agama apa pun. Aku perhatikan saat lebaran, Papa dan Mama ikut halal bihalal di Konjen. Begitu juga natal dan tahun baru. Agama kami berarti apa saja. Di kampus, hampir kebanyakan agamanya, ilmu pengetahuan.

“Ayo!” Nicky memasuki sebuah rumah tua. “Murah-meriah!”

Aku baca nama hotelnya : Wisma Pakuan – Home stay. Nyaman juga. Tidak berisik. Aku justru menyukai penginapan seperti ini. Terasa seperti sedang di rumah. Sepanjang hidupku, aku selalu berpindah-pindah dari satu apartemen ke apartemen lain. Di Kansas, aku tinggal di asrama, bersama Dave, yang kalau tidur mendengkur! Tak ada aturan apa-apa!

***

Aku berjalan-jalan di Kebun Raya, Bogor. Ini adalah paru-paru kota. Aku suka sekali. Di tengah kebisingan kota dengan keberadaannya yang kacau-balau, ada hutan dengan pohon-pohonnya yang sudah tua. Nicky berjalan disebelahku, agak menjauh seperti biasa. Dan adik lelakinya, berjalan di belakang; mengawal kami.

“Kamu janji siang ini akan mengajakku kerumahmu.”

“Oke!”

“Sudah jam satu!”

“Tapi, aku masih betah di sini! Kebun Raya ini bagiku seperti surga. Aku lupa dengan segala masalah yang ada di kotaku ini.”

“Tapi, kemarin kamu janjinya hari ini.”

“Kenapa kamu begitu ingin kerumahku?”

“Lantas, untuk apa pula aku terbang selama dua puluh dua jam dari Kansas ke sini?”

“Mengisi summer holiday-mu!”

“Aku bosan! Selama dua hari ini hanya melihat rusa Bogormu dan kebun Raya ini! Ditemani adikmu pula!”

“Aku tidak menyuruh kamu ke sini, lho,” Nicky tersenyum. “Kamu yang menginginkan liburan musim panasmu di sini. Aku hanya jadi guide saja.”

Aku duduk di bangku. Meminum air mineral. Angin sepoi menyejukkan hati. Mungkin aku sudah sinting. Jauh-jauh datang ke Bogor dari Kansas, hanya untuk melihat rusa Bogor dan kebun Raya. Tapi, Nicky semakin jadi magnet buatku. Semakin aku ingin pulang ke Kansas, semakin aku tak ingin meninggalkan Bogor. Ada yang kukagumi dari diri Nicky, yaitu keteguhan hatinya. Dia membuatku kagum dan harus menghormati atas segala sikapnya. Dia sama sekali tidak mau aku sentuh, walaupun hanya bersalaman atau untuk aku seberangkan, jika lalu-lintas sedang padat. Zebra cross di sini tidak jadi jaminan orang akan nyaman dan aman menyeberang. Tapi, Nicky lebih memilih meminta tolong adiknya.

Sore hari, dengan naik mobil berwarna hijau, yang ternyata lelucon Nicky, bahwa mobil itu memang angkutan umum, kami sampai di rumah Nicky. Rumahnya ada di bawah, di celah lekukan antara dua bukit. Kota Bogor ini berada di kaki gunung Salak. Rumahnya berhimpitan dengan rumah-rumah yang lain, tapi tidak terasa sesak. Banyak tanaman hias bergantungan dari tiang-tiang rumah. Kecil dan mungil. Halamannya tidak luas, hanya sekitar dua meteran.

“Mana orang tuamu?” tanyaku, karena rumahnya kosong. Hanya ada adiknya saja.

“Ayah dan ibuku sudah tidak ada. Kami hanya hidup berdua,” suaranya riang saja.

Aku terpana, “Kalian hidup berdua?”

“Iya.”

Adiknya muncul membawa dua gelas minuman teh manis panas.

“Bagaimana kalian membiayai hidup?”

“Kami dapat beasiswa. Aku juga nyambi jadi guide. Setiap aku berhasil membawa tamu menginap, aku mendapat komisi.”

Aku tercengang. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Pertemuanku dengan Nicky membuatku seperti berada di dunia lain, yang tidak pernah aku rasakan. Ada nilai-nilai yang selama ini aku abaikan. Nilai kemanusiaan yang utuh, yang tak pernah aku rasakan di Kansas, bersama teman-teman di kampusku. Bersama dengan Grace, pacarku. Bahkan bersama Papa dan Mama. Uang begitu mudah aku peroleh dan aku hambur-hamburkan sesuka hati.

Saat pesawat lepas landas dari Soekarno-Hatta International Airport, perasaanku tak bisa aku gambarkan. Sulit untuk aku ceritakan pada kawan-kawanku di Kansas tentang segala yang aku lakukan bersama Nicky. Juga pada Papa dan Mama. Begitu berat meninggalkan Bogor. Begitu berat meninggalkan Nicky. Aku tidak tahu, apakah ini cinta? Ah, terlalu pagi. Yang hanya bisa aku ingat dari Nicky adalah keriangan dan kesederhanaan serta harga dirinya yang tinggi. Begitulah seharusnya seorang wanita, dia harus seperti pualam. Mahal dan tidak bisa sembarangan disentuh.

Diambil dari buku antologi cerpen berjudul “Addicted 2 U” yang diterbitkan oleh Forum Lingkar Pena.

Dapatkan bukunya dan ikuti cerpen-cerpen pilihan karya Asma Nadia, Gola Gong, Hilman dan lain-lain.

http://ceritacinta.net/2007/01/03/antara-kansas-dan-bogor-ada-cinta-bersemi/

Read Full Post »

Penulis : Inayati

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *

For vieny, welcome to your husband’s heart.

*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.

Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002

Read Full Post »

Beberapa hari yang lalu baru nonton sebuah film, walaupun filmnya membosankan, tapi di situ ada suatu dialog yang cukup menarik perhatian saya. Begini kira-kira bunyi frasenya, “Jika engkau benar-benar menginginkan sesuatu, sedemikian inginnya sampai kau benar-benar merasakannya, maka ia akan nyaris menjadi kenyataan, tinggal kau saja yang perlu sedikit usaha untuk mewujudkannya”.

Membaca sejarah dan kisah-kisah yang memiliki pelajaran, sungguh sangat mengasyikkan. Saya baru tersadar ternyata memang jodoh itu di tangan Allah, meskipun ada sedikit guyonan dari beberapa orang yang berkata bahwa, “Iya memang jodoh di tangan Allah, tapi klo nggak kita ambil, ya dia akan tetap berada di tanganNya”. Benar juga ya, tapi nggak seratus persen benar kok.

Dalam kisah Nabi Allah Musa AS, diceritakan bagaimana beliau mendapatkan istrinya, yaitu berawal ketika beliau menolong wanita penggembala kambing untuk menggiringkan kambing-kambingnya mendapatkan air minum saat beristirahat dari pelarian dirinya. Ataupun kisah populer mengenai seorang jujur yang memakan buah yang terhanyut di sungai, lalu karena ia merasa berdosa telah memakan buah yang bukan miliknya, ia melaporkan kepada pemiliki kebun yang pada akhirnya malahan menikahkannya dengan anaknya yang shalihah dan cantik. Bagaimanakah mungkin hal-hal yang sepertinya tidak dimaksudkan untuk mendapatkan pasangan hidup malah bisa mengarahkan diri menuju penemuan pasangan hidup yang terbaik? Itulah yang disebut dengan jodoh.

Tulisan ini tidak untuk melemahkan kita dalam usaha pencarian pasangan hidup dengan menumbuh-suburkan anggapan bahwa nanti juga jodoh kita akan datang sendiri, bukan itu maksudnya. Tapi tulisan ini dibuat untuk menyemangati diri ditengah ikhtiar kita yang optimal untuk mendapatkan pasangan hidup yang terbaik.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar Ra’d:11)

Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An Nahl:72)

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS. Al Furqaan: 74-76)

—000—

Untuk saudara/i ku yang sedang mencari pasangan hidup terbaiknya, selamat ya, sesungguhnya usahamu itu telah menunjukkan ketakwaanmu terhadap takdirNya. “dan ikatlah tali kudamu, lalu bertawakallah”

ipin4u – Myquran.org
untuk lebih lengkapnya baca http://suryaningsih.wordpress.com/2007/04/17/takkan-lari-jodoh-dikejar/

Read Full Post »

Older Posts »